Cerita Surya Anta Hidup Sebulan Pertama di Rutan Salemba
TEMPO.CO | 12/07/2020 21:28
Cerita Surya Anta Hidup Sebulan Pertama di Rutan Salemba
Cerita Surya Anta Hidup Sebulan Pertama di Rutan Salemba

TEMPO.CO, Jakarta - Juru Bicara Front Rakyat Indonesia for West Papua Surya Anta Ginting menceritakan kesehariannya menjalani hukuman pidana di Rutan Salemba. Ia bersama tujuh aktivis Papua lainnya ditangkap karena mengibarkan bendera bintang kejora di depan Istana Merdeka pada Agustus 2019 lalu.

Cerita itu Surya bagikan melalui akun Twitter pribadinya, @SuryaAnta. Di hari pertamanya masuk Rutan Salemba, ia dan rekan-rekannya langsung dimintai uang atau pungutan liar oleh tahanan lama.

Surya menyebut jika ia harus membayar Rp 1 juta agar bisa menjadi penghuni Lapak Palembang. Sedangkan rekannya, Dano Tabun, dimintai Rp 3 juta untuk Lapak Lampung.

"Akhirnya kami berlima bayar Rp 500 ribu setelah para tahanan lain tahu kalau kami ini aktivis, bukan anak pejabat," cuit Surya pada Ahad, 12 Juli 2020.

Surya bersama Ambros, Dano, Isay, dan Charles terlebih dulu ditempatkan di ruang penampungan atau ruangan masa pengenalan lingkungan. Kelimanya harus berbagi tempat selama satu bulan, 18 November-19 Desember 2019, dengan lebih dari 420 tahanan lainnya.

"Dan toiletnya cuma 2," kata Surya. Dalam foto yang ia unggah, tampak ratusan tahanan tidur berjejer dan tak ada jarak antar satu sama lain.

Di hari-hari pertamanya, Surya bercerita pernah ditawari oleh penjual sabu keliling yang berlokasi di lantai 2. Para tahanan lama itu, kata dia, kerap menjajakan barang dagangannya kepada tahanan baru.

Sebagai hiburan, pihak rutan menyediakan satu televisi di barak penampungan. Di mana, kata Surya, jika ada seseorang yang berani memindahkan saluran, maka akan disoraki.

"Terus, botol-botol ini buat nampung air cadong buat minum, tapi airnya berasa ada yang lengket. Para tahanan jadi sakit tenggorokan," ucap Surya.

Satu bulan berlalu, Surya kemudian dipindah ke Blok J, Kamar no. 18. Namun, ia pindah setelah mendapat tekanan dari teman-teman di luar. Sementara banyak tahanan dan narapidana lainnya yang terpaksa tidur di lorong karena tak punya uang yang diibaratkan sebagai tiket masuk kamar.

Kamar tersebut, kata Surya Anta, merupakan hunian terpidana mati Fredy Budiman. "Sudah lama kamar ini tempat transaksi sabu," kata dia.

Hingga berita ini diturunkan, Tempo belum berhasil meminta keterangan dari pihak Rutan Salemba soal cerita Surya Anta tersebut. 

ANDITA RAHMA


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT