Walhi: Nelayan Bengkulu Tolak Tangkap Benih Lobster untuk Ekspor
TEMPO.CO | 11/07/2020 21:56
Benih lobster. Antaranews.com
Benih lobster. Antaranews.com

TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Departemen Advokasi Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Zenzi Suhadi, mengatakan sebagian besar nelayan di pesisir Bengkulu menolak menangkap benur atau benih lobster meski pemerintah telah membuka keran ekspor. Temuan itu berdasarkan penelitian Walhi terhadap kondisi komoditas laut di pesisir Lampung hingga Bengkulu dalam beberapa bulan terakhir.

“Nelayan menolak untuk menangkap atau menjual. Mereka sudah memperhitungkan ekosistem,” tutur Zenzi saat ditemui di kantor Walhi, Jakarta Selatan, Jumat, 10 Juli 2020.

Sejatinya, Zenzi menyebut, sudah ada 13 eksportir yang mendatangi nelayan di pesisir Bengkulu untuk membuka kerja sama terkait ekspor komoditas itu. Namun, kata dia, nelayan masih berkukuh tidak mau menangkap benih lobster.

Musababnya, nelayan sudah menghitung sejumlah risiko jika benur ditangkap dalam jumlah besar. Salah satunya, mereka akan dihadapkan dengan potensi kepunahan komoditas dalam jangka panjang.

Belum lagi, penangkapan benih lobster ini akan mengganggu ekosistem 14 jenis ikan lainnya. Sebab, rantai makanan ikan-ikan tersebut satu sama lain saling berkaitan atau saling-silang. Adapun jenis ikan yang dimaksud adalah ikan gebur, ikan marlin, ikan karang, ikan tudak, ikan tongkol, ikan keling, ikan tuhuk, ikan tuna, ikan kakap, ikan selar, ikan kurau, ipun ikan, ipun udang, dan upun senggugu.

Zenzi melanjutkan, selama ini nelayan lebih memilih untuk menangkap lobster dewasa yang sudah memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan risiko punahnya lebih rendah. Rata-rata lobster besar untuk jenis pasir dijual seharga Rp 50-200 ribu per ekor. Sedangkan jenis mutiara dijual seharga Rp 900 ribuan per ekor.

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo membuka ekspor benih lobster melalui Peraturan Menteri Kementerian dan Kelautan Nomor 12 Tahun 2020. Sebanyak 31 perusahaan telah mengantongi izin setelah beleid itu terbit.

Edhy berdalih, ekspor bisa dibuka karena lobster memiliki potensi telur hingga 1 juta butir per ekor. Estimasi jumlah lobster beredar di perairan Tanah Air pun diproyeksikan mencapai lebih dari 26 miliar ekor untuk enam jenis lobster atau 5 miliar per jenis.

“Kalau 10 persen saja sudah 500 juta kami izinkan (ekspor), saya sangat yakin ini akan meningkatkan kesejahteraan,” tuturnya, Senin, 6 Juli 2020.

Namun, kata Edhy, seandainya benih dibiarkan tidak dimanfaatkan untuk budidaya, ia menyebut lobster yang akan bertahan hingga besar hanya mencapai 0,02 persen dari total telurnya. “Jadi 20 persen ekspor benih lobster itu yang akan jadi dewasa hanya satu ekor. Sementara kalau dibudidaya bisa 30 persen bahkan 80 persen,” ucapnya.

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT