Pasar Oversupply, Bea Masuk Masker Impor Diminta Dinaikkan
TEMPO.CO | 11/07/2020 10:31
Pengunjung membeli masker di Pasar Pramuka, Jakarta, Senin, 2 Maret 2020. ANTARA/Aditya Pradana Putra
Pengunjung membeli masker di Pasar Pramuka, Jakarta, Senin, 2 Maret 2020. ANTARA/Aditya Pradana Putra

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian Elis Masitoh menyebutkan lonjakan impor masker medis masih berlangsung dari semula terjadi pada medio April 2020. Padahal yang terjadi saat ini adalah pasar di Tanah Air dibanjiri oleh masker medis buatan lokal yang sudah oversupply, ditambah lagi masker medis impor. 

Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian mengusulkan agar bea masuk masker medis impor dinaikkan. "Supaya industri dalam negeri supply-nya terserap demand dalam negeri," ujar Elis, Jumat, 10 Juli 2020.

Lonjakan impor medis itu di antaranya sebagai imbas dari pencabutan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 28 Tahun 2020. Beleid itu mengatur tentang Perubahan Kedelapan atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 87 M-DAG/PER/10/2015 tentang Ketentuan Impor Produk Tertentu.

Pencabutan beleid tersebut membuat perizinan impor yang tadinya dihilangkan menjadi normal. Selain itu, Kementerian Keuangan juga menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 83 2020 tentang revisi PMK No.34/2020.

Beleid tersebut terkait kasulitas perpajakan atas impor barang untuk keperluan penanganan pandemi Covid-19. Secara singkat, PMK No.83/2020 membuat relaksasi pajak impor masker medis kembali normal sejak Selasa lalu, 7 Juli 2020.

Elis menyebutkan, pemerintah harus bertindak lebih jauh lagi untuk melindungi produsen masker di dalam negeri. Pasalnya, pasokan masker dari dalam negeri telah jauh melebihi permintaan nasional jika melihat data Kementerian Kesehatan.

Kemenperin membagi masker menjadi tiga jenis, yakni masker N95, masker bedah, dan masker kain. Produksi masker bedah sejak April 2020 telah mencapai 398 juta unit per bulan yang berasal dari 63 pabrikan, sedangkan permintaan masker medis tercatat hanya 129 juta unit hingga akhir 2020.

Walaupun demikian, produksi masker N95 tercatat baru mencapai 250.000 unit per bulan, sedangkan permintaan per bulannya mencapai sekitar 955.000 unit per bulan. Dengan kata lain, masih ada defisit masker N95 sekitar 5,3 juta unit masker N95 hingga akhir 2020.

Sementara itu, produksi masker kain telah menembus 55 juta unit per bulan dari 16 pabrikan. Namun demikian, Kemenperin tidak mencantumkan jumlah permintaan nasional.

Elis menjelaskan data permintaan yang tertera dalam tabel pasokan-permintaan masker miliknya berasal dari Kementerian Kesehatan. Menurutnya, data tersebut kemungkinan berbeda dengan permintaan riil di lapangan saat ini.

Data demand riil ini, menurut Elis, berasal dari Kementerian Kesehatan. "Data (permintaan masker) tiap daerah (yang dicatat Dinas Kesehatan per pemerintah daerah) pasti ada, karena penanganan Covid-19 juga ada di darah-daerah. Itu permintaanya belum terekap."

BISNIS


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT