Begini Cara BNI Mencegah Kasus Maria Pauline Lumowa Terulang
TEMPO.CO | 09/07/2020 21:51
Buronan pelaku pembobolan Bank BNI Maria Pauline Lumowa (tengah) berjalan dengan kawalan polisi usai tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Kamis, 9 Juli 2020.  Maria yang berkewarganegaraan Belanda telah tertangkap sejak Juli 20
Buronan pelaku pembobolan Bank BNI Maria Pauline Lumowa (tengah) berjalan dengan kawalan polisi usai tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Kamis, 9 Juli 2020. Maria yang berkewarganegaraan Belanda telah tertangkap sejak Juli 2019 di bandara Serbia berdasarkan red notice Interpol, namun baru bisa dipulangkan setahun setelahnya. ANTARA/Aditya Pradana Putra/nz.

TEMPO.CO, Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mengapresiasi penangkapan tersangka kasus surat kredit (L/C) fiktif untuk perdagangan internasional senilai Rp1,7 triliun, Maria Pauline Lumowa yang menjadi buron selama 17 tahun.

"Kami menghormati proses hukum yang berjalan dan siap membantu aparat dalam proses hukum terhadap tersangka, sehingga penegakan hukum selesai hingga tuntas," kata Direktur Human Capital dan Kepatuhan BNI, Bob T. Ananta di Jakarta, Kamis 9 Juli 2020.

Dengan ditangkapnya tersangka, bank BUMN ini berharap pemulihan untuk mengurangi kerugian perusahaan. Untuk mencegah peristiwa serupa, bank pelat merah ini melakukan berbagai langkah di antaranya evaluasi terhadap tata kelola layanan pemrosesan L/C, sehingga dapat menemukan modus yang digunakan pelaku.

Dari evaluasi tersebut, pihaknya melakukan beberapa langkah yakni mengalihkan kewenangan dalam memutuskan transaksi L/C, yang awalnya di Kantor Cabang Utama dialihkan ke Trade Processing Center (TPC) di Divisi Internasional Kantor Pusat.

Selain itu, fungsi kantor cabang dalam layanan pemrosesan L/C ini pun berubah. Saat ini Kantor Cabang hanya berfungsi melakukan penerimaan permohonan transaksi perdagangan dari nasabah, sedangkan keputusan transaksinya menjadi kewenangan tim di Kantor Pusat.

"Kini, prosesnya menjadi jauh lebih aman baik bagi perusahaan maupun bagi nasabah, karena telah dilakukan digitalisasi layanan," ujarnya.

Maria Pauline Lumowa merupakan salah satu tersangka utama yang membobol kas BNI senilai Rp1,7 triliun yang terjadi tahun 2002-2003.

Setelah belasan tahun menjadi buron, Polri bersama Interpol dibantu aparat terkait menangkap Maria Pauline yang melakukan pembobolan Bank BNI di Beograd Serbia dan diterbangkan ke Jakarta untuk diadili.

ANTARA


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT