Dirjen Diksi: Link and Match Kunci Memajukan Vokasi dan Industri Nasional
TEMPO.CO | 04/07/2020 14:40
Tangkap layar diskusi virtual bertajuk "Menciptakan SDM Unggul dengan Pendidikan Vokasi" di kanal YouTube Tempo pada Jumat, 3 Juli 2020.
Tangkap layar diskusi virtual bertajuk "Menciptakan SDM Unggul dengan Pendidikan Vokasi" di kanal YouTube Tempo pada Jumat, 3 Juli 2020.

INFO NASIONAL - Dirjen Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Wikan Sakarinto, menegaskan pendidikan vokasi harus terus melakukan inovasi dan terobosan. Meski sejak dahulu sudah berkolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri (Dudi), tapi Link and Match harus terus ditingkatkan.

“Kalau dulu Link and Match sudah ada tapi secara masif belum sampai level “menikah”, berbagi risiko, dan investasi. Link and Match era saat ini harus lebih mendalam,” kata Dirjen Wikan dalam diskusi virtual Menciptakan SDM Unggul dengan Pendidikan Vokasi, di kanal YouTube Tempo, Jumat, 3 Juli 2020.

Melalui Link and Match, diharapkan bisa menghasilkan hasil riset terapan yang menghilirisasi riset-riset menjadi produk nyata, paten, dan dipublikasikan, sehingga dapat bermanfaat bagi dunia industri dan masyarakat. Selain itu, dengan menggodok kurikulum vokasi bersama DUDI disertai riset mendalam, akan bisa terlihat outlook kebutuhan industri lima hingga sepuluh tahun mendatang.

Untuk mendorong “pernikahan massal” antara pendidikan vokasi dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), setidaknya ada empat syarat yang wajib dipenuhi. “SMK dan kampus vokasi harus duduk bersama merombak kurikulum agar sesuai dengan kompetensi masa kini dan masa mendatang, kemudian mengajak industri mengajar bersama, magang dirancang bersama dan ada sertifikasi kompetensi bagi mahasiswa yang sudah magang. Lalu komitmen penyerapan lulusan harus dilakukan lebih,” katanya.

Dalam jangka panjang Link and Match membawa manfaat berkelanjutan bagi banyak pihak. DUDI diuntungkan karena tersedia tenaga siap kerja yang memahami seluk beluk industri tanpa harus mendidik ulang tenaga kerja. Di sisi lain, lulusan pendidikan vokasi semakin diakui di dunia kerja bukan hanya karena ijazahnya, melainkan memiliki kompetensi tinggi meliputi hardskills, softskill, attitude, dan karakter, serta kemampuan berbahasa Inggris.

Sependapat dengan hal itu, Rosan Roeslani, Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia, mengatakan pendidikan vokasi amat penting untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing dari pekerja. Link Match disertai komunikasi masif dengan DUDI menjadikan lulusan vokasi semakin banyak dicari.

“Beberapa bidang sudah menerapkan, seperti kesehatan, pariwisata, dan yang lain masih kita coba. Perusaahaan menyambut baik lulusan vokasi, dibanding pencari kerja lain. Mereka bisa hemat tiga bulan mempercepat pencari kerja masuk ke peak performance. Vokasi mempersiapkan performance mereka sebelum jadi karyawan,” ujarnya.

Tak kalah penting, Bob Azam, Wakil Ketua Bidang Ketenagakerjaan APINDO, mengatakan memasuki era new normal saat pandemi Covid-19 inilah momentum tepat memperbaiki pendidikan vokasi dan mewujudkan Link and Match. Sejumlah bidang usaha akan beradaptasi dan bertransformasi, maka harus membentuk ekosistem agar bisa menopang dan mengantisipasi perubahan lebih cepat.

“Kita butuh partner mengatasi mismatch di tengah industri yang tumbuh demikian cepat, seperti sektor digital, maintenance, logistik. Kita harap dunia pendidikan jadi partner DUDI, pemerintah sebagai regulator juga melibatkan pemerintah daerah merencanakan pendidikan vokasi di daerahnya, dan pendidikan harus engage bukan hanya menciptakan lulusan,” ujarnya. (*)


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT