TOD di Stasiun MRT Jakarta Akan Kurangi Ruang Parkir
TEMPO.CO | 02/07/2020 19:30
Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar saat pemaparan dalam forum jurnalis di kantornya, Wisma Nusantara, Jakarta Pusat, Kamis, 27 Februari 2020. TEMPO/Lani Diana
Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar saat pemaparan dalam forum jurnalis di kantornya, Wisma Nusantara, Jakarta Pusat, Kamis, 27 Februari 2020. TEMPO/Lani Diana

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Mass Rapid Transit Jakarta, William Sabandar, mengatakan pengembangan kawasan berorientasi transit (KBT) atau transit oriented development (TOD) bakal mengurangi satuan ruang parkir kendaraan pribadi. Dalam paparannya, William menjelaskan, area parkir yang hilang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan bangunan TOD MRT Jakarta.

"Karena dengan adanya TOD kami berharap bahwa jumlah pengguna transportasi kendaraan pribadi akan semakin berkurang," kata dia saat konferensi pers virtual, Kamis, 2 Juli 2020.

Saat ini MRT Jakarta tengah mengerjakan TOD di tiga stasiun kereta, yaitu Lebak Bulus, Fatmawati, dan Blok M-ASEAN. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah menerbitkan dasar hukum berisikan panduan rancang kota (PRK) TOD di tiga kawasan tersebut.

Penataan kawasan Blok M-ASEAN tertuang dalam Peraturan Gubernur Nomor 55 Tahun 2020 dengan total area pengembangan campuran 470 ribu meter persegi. Di kawasan ini terdapat 29.606 pengurangan satuan ruang parkir. TOD di kawasan ini fokus pada penghijauan area atau disebut green creative hub.

Kemudian TOD di Fatmawati diatur dalam Pergub Nomor 56 Tahun 2020. MRT Jakarta mencatat potensi reduksi satuan ruang parkir sebanyak 25.125. Area pengembangan mencapai 460 ribu meter persegi. Fokus pengembangan area adalah memanfaatkan ruang atas yang dinamis.

Pengembangan kawasan seluas 200 ribu meter persegi di Lebak Bulus termuat di Pergub Nomor 57 Tahun 2020. BUMD itu berencana menyediakan tambahan 1.500 lahan parkir dengan perluasan tujuh titik park and ride di Stasiun Lebak Bulus.

Stasiun ini ditargetkan menjadi pemberhentian akhir. Maksudnya adalah pengguna kereta berangkat dari rumah menuju Stasiun Lebak Bulus menggunakan kendaraan pribadi dan melanjutkan perjalanan dengan kereta Ratangga. Kawasan Lebak Bulus diproyeksikan bakal menjadi gerbang selatan Jakarta.

"Kenapa kawasan TOD itu dikembangkan karena di sini ada jumlah penumpang yang bertambah, jumlah aktivitas yang bertambah akibat adanya MRT, sehingga cara kami membangun itu vertikal ke atas," ujar William.

William menyampaikan transit oriented development juga menambah pekerjaan lain antara lain membangun trotoar bagi pejalan kaki, menyediakan taman dan ruang terbuka hijau, menanam pepohonan, serta menempatkan fasilitas bike sharing di stasiun.

Menurut dia, TOD ini mengusung konsep urban regeneration. Konsep itu ingin menggambarkan bahwa pembangunan tidak lagi tersentralisasi di pusat kota seperti dulu kala. Kini, pemerintah DKI memusatkan pembangunan di sekitar stasiun MRT Jakarta.

Pengembangan kawasan menjadi tanggung jawab anak perusahaan MRT Jakarta bernama PT Integrasi Transit Jakarta. Pembentukannya, tutur dia, memasuki tahap akhir dan akan rampung awal Juli ini.

Secara keseluruhan, MRT Jakarta berencana mengembangkan TOD di lima stasiun. Dua stasiun lagi adalah Dukuh Atas dan Istora-Senayan yang masih menunggu terbitnya Pergub PRK. 

LANI DIANA


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT