Sri Mulyani: Respons Pemerintah Melalui APBN Kunci di Masa Pandemi
TEMPO.CO | 30/06/2020 08:45
Menkeu Sri Mulyani Indrawati memberikan pidato pada acara Mandiri Investment Forum 2020 Indonesia : Advancing Investment-Led Growth, di Jakarta, Rabu, 5 Februari 2020. Tempo/Tony Hartawan
Menkeu Sri Mulyani Indrawati memberikan pidato pada acara Mandiri Investment Forum 2020 Indonesia : Advancing Investment-Led Growth, di Jakarta, Rabu, 5 Februari 2020. Tempo/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan respons pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN menjadi kunci di masa pandemi Covid-19. Dia menuturkan dalam masa pandemi yang penuh ketidakpastian ini, pemerintah memiliki peran sangat penting karena hampir semua sektor publik hingga swasta terkena imbas pandemi.

“Krisis kali ini berbeda sekali karena kami harus melindungi manusia dan perekonomiannya sekaligus. Untuk membendung penyebaran virus, kami harus membatasi pergerakan manusia. Itu salah satu shock besar karena tidak pernah terjadi sebelumnya, jadi kita harus memikirkan dua sampai tiga langkah ke depan. Ini lah mengapa Pemerintah berperan sangat penting”, kata Sri Mulyani dalam keterangan tertulis, Selasa, 30 Juni 2020.

Menurutnya, pemerintah langsung merespons dengan cepat yaitu dengan melakukan penyesuaian APBN. Dia melihat pandemi Covid-19 memukul perekonomian masyarakat secara luas, termasuk rumah tangga dan pelaku usaha.

Selain perlindungan sosial, dukungan bagi pelaku usaha, khususnya UMKM sangat penting. Salah satu langkah penting adalah restrukturisasi kredit UMKM, dibarengi dengan subsidi bunga dan memberikan kemudahan untuk mendapatkan kredit modal kerja baik melalui penempatan dana murah pada perbankan maupun penjaminan kredit.

Menurut Sri Mulyani, banyak pelaku UMKM adalah wanita, sehingga dukungan ini juga sekaligus berdampak pada inklusi keuangan dan kesetaraan gender. Dia menambahkan, satu hal yang berbeda pada krisis kali ini adalah adanya pembatasan sosial, dan beruntung mempunyai teknologi sehingga banyak transaksi dilakukan secara online.

"Episentrum pandemi di Indonesia yaitu Jakarta yang masyarakatnya lebih maju dalam penguasaan teknologi. Sehingga meskipun tidak ada kontak (fisik), transaksi terus berlangsung. Banyak orang beralih menggunakan transaksi dengan teknologi digital. Hal ini mengakselerasi penggunaan teknologi yang (selanjutnya) mentransformasi ekonomi ke digital," ujarnya.

Menkeu juga menjelaskan strategi pembiayaan Indonesia di masa pandemi. Menurutnya, di tengah pandemi yang menyebabkan gejolak pasar keuangan, pendalaman pasar dan mengandalkan pembiayaan domestik menjadi sangat penting.

"Di Indonesia, peningkatan defisit terjadi secara dramatis menjadi di atas 6 persen. Kami pertama melihat sumber pembiayaan yang kita miliki sendiri. Selanjutnya Pemerintah juga memanfaatkan pasar surat berharga dalam negeri," kata dia.

Di samping itu, dimungkinkannya bank sentral untuk membeli dan berpartisipasi di pasar primer juga menjadi satu hal kritikal. Terakhir, peran lembaga keuangan multilateral dan bilateral juga sangat penting dalam memberikan pinjaman dengan bunga yang rendah.

Adapun hal tersebut disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani saat menjadi salah satu panelis dalam acara Toronto Centre Live Webinar dengan tema “Post Covid-19 Crisis: Implications for Financial Stability, Financial Inclusion, Gender Equality and International Development”.

HENDARTYO HANGGI


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT