Mendekati New Normal, Rupiah Menguat sementara Harga Emas Turun
TEMPO.CO | 04/06/2020 08:28
Karyawan bank mengitung uang 100 dolar amerika di Bank Mandiri Pusat, Jakarta, Selasa, 17 Maret 2020. Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa, semakin tertekan dampak wabah COVID-19. Rupiah ditutup melemah 240 poin a
Karyawan bank mengitung uang 100 dolar amerika di Bank Mandiri Pusat, Jakarta, Selasa, 17 Maret 2020. Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa, semakin tertekan dampak wabah COVID-19. Rupiah ditutup melemah 240 poin atau 1,61 persen menjadi Rp15.173 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.933 per dolar AS. TEMPO/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Mendekati penerapan New Normal di Indonesia, harga emas diperkirakan bakal terus melemah sedangkan nilai tukar rupiah menguat. 

Pada penutupan perdagangan Rabu 3 Juni 2020 kemarin, nilai tukar rupiah menguat 2,22 persen ke level Rp14.095. Sedangkan harga emas Antam turun Rp 16.000 per gram menjadi Rp 904 ribu.

Padahal sebelumnya, rupiah dan emas akan diperkirakan bakal sama-sama menguat seiring memanasnya situasi ekonomi dan politik di Amerika Serikat.

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan pelemahan harga emas tidak lepas dari rencana penerapan kenormalan baru atau  new normal di sejumlah negara. Pasalnya hal itu telah memberikan euforia akan pembukaan aktivitas ekonomi di tengah pandemi. 

“Rencana new normal di Indonesia memberikan sentimen positif ke aset berisiko. Pelaku pasar seakan tidak mau ketinggalan kereta untuk masuk ke investasi aset berisiko,” katanya kepada Bisnis pada Rabu 3 Juni 2020.

Menurutnya minat investor terhadap aset berisiko saat ini sedang tinggi maka itu harga emas yang termasuk sebagai aset aman sedikit tertekan. Adapun yang menjadi satu-satunya sentimen positif saat ini adalah stimulus besar bank sentral AS.

Ariston memperkirakan hari ini harga emas bakal menguji US$1.690 untuk level support dan US$1.740 untuk level resistance. Selain itu, pelemahan emas ikut mendorong penguatan rupiah terhadap dolar. “Rupiah masih berpotensi ke Rp14.000,” katanya.

Sementara itu, Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Suabi, mengatakan nilai tukar nasional itu berpeluang besar kembali ke level Rp14.000 seiring bertambahnya aliran dana asing yang masuk lewat surat utang. Menurutnya selama Bank Indonesia mempertahankan suku bunga di level 4,5 persen ada kemungkinan rupiah bakal kembali ke level di bawah Rp14.000.

“Kemungkinan kuartal ketiga nanti rupiah menguat ke Rp13.700 karena secara fundamental memang kita kuat. Selain itu, kupon bunga yang ditawarkan saat ini juga menjadi yang tertinggi di atas India,” kata Ibrahim.

BISNIS

 

REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT