UGM Anggap Intimidasi Diskusi Mahasiswa Konyol dan Tak Etis
TEMPO.CO | 31/05/2020 13:44
Gedung Pertamina Tower di kampus UGM, Yogyakarta, (8/10). TEMPO/Rina Widiastuti
Gedung Pertamina Tower di kampus UGM, Yogyakarta, (8/10). TEMPO/Rina Widiastuti

TEMPO.CO, Jakarta - Dekan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Sigit Riyanto, menegaskan bahwa tindakan intimidatif terhadap mahasiswanya yang menjadi panitia acara diskusi mahasiswa Constitutional Law Society (CLS) tak dapat diterima. Ia mengatakan tindakan semcam itu mengancam kebebasan berpikir di dunia akademik.

Dalam diskusi bersama Pemimpin Redaksi Koran Tempo, Budi Setyarso di acara IniBudi Ahad, 31 Mei 2020, Sigit mengatakan sepanjang kariernya menjadi dosen, ini merupakan kali pertama mahasiswa FH mengalami peristiwa semacam ini.

"Saya prihatin dan sangat menyesalkan hal seperti ini terjadi. Ini bukan hanya mengancam kegiatan di Fakultas Hukum UGM saja, tapi juga kegiatan akademik di seluruh negara ini," kata Sigit dalam diskusi lewat teleconfernce tersebut.

Ia mengatakan para civitas akedemika di seluruh Indonesia bisa saja menjadi takut, khawatir, menjadi tak kreatif pasca peristiwa ini. Apalagi ancaman yang diterima panitia diskusi CLS tentang pemecatan presiden itu melibatkan keluarga.

"Lalu apa yang kita bisa harapkan dari dunia pendidikan tinggi, orang mau berekspresi akademi akan jadi terkekang," kata Sigit.

Sigit menegaskan menyatakan pendapat ataupun berdiskusi adalah bagian dari kewajiban akademisi sebagai bagian dari proses mereka. Mereka akan menghasilkan output yang dapat dibaca masyarakat dan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan pembuat kebijakan. Termasuk juga diskusi pemecatan presiden dilihat dari segi konstitusi, yang menjadi tema diskusi CLS.

Kegiatan semacam ini dan kebebasan berekspresi, kata Sigit, juga dijamin oleh undang-undang dan konstitusi negara. Meski pro dan kontra adalah hal biasa dalam hal akademik, namun tak dapat diwujudkan dalam bentuk ancaman. Karena itu, tak ada pembenaran dalam intimidasi yang diterima para mahasiswanya.

"Orang tak ikut diskusinya tapi mengecam, mem-bully, menghujat, menafsirkan sebagai tindakan makar. Itu bukan hanya konyol, tapi juga tak etis dan itu merusak peradaban. Itu yang harusnya kita lawan. Itu yang membuat keruh di masyarakat kita," kata Sigit.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT