Jusuf Kalla: New Normal Bukan Sesuatu yang Rumit Amat
TEMPO.CO | 31/05/2020 08:41
Ketua Umum Palang Merah Indonesia, Jusuf Kalla, memperlihatkan piagang penghargaan donasi 9 ribu masker N95 dari Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia untuk membantu dalam menangani pandemi virus corona baru (Covid-19), 14 Mei 2020. (MMKSI)
Ketua Umum Palang Merah Indonesia, Jusuf Kalla, memperlihatkan piagang penghargaan donasi 9 ribu masker N95 dari Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia untuk membantu dalam menangani pandemi virus corona baru (Covid-19), 14 Mei 2020. (MMKSI)

TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebut tatanan baru atau new normal sangat erat hubungannya dengan pemulihan aktivitas masyarakat yang berubah di tengah pandemi virus Corona (Covid-19) sebagai harapan.

"New normal (kenormalan baru) itu harapan. Bukan sesuatu yang rumit amat," kata JK dalam diskusi virtual mengenai kenormalan baru di Indonesia yang diselenggarakan Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju di Jakarta, Sabtu, 30 Mei 2020.

JK mengatakan bahwa di masa pandemi Covid-19, warga tidak bisa melakukan kegiatan di tempat kerja, sekolah, pasar, pusat perbelanjaan, rumah ibadah, tempat pertemuan, dan fasilitas umum seperti tahun-tahun sebelumnya.

Warga, kata JK, harus membatasi kegiatan dan beradaptasi dengan menerapkan kebiasaan baru untuk mencegah penularan virus Corona. Pandemi ini juga telah menimbulkan krisis kesehatan di berbagai belahan dunia.

Di dalam situasi new normal ini, menurut JK, warga bisa kembali bekerja ke kantor, melaksanakan aktivitas belajar mengajar di sekolah, serta melakukan kegiatan sehari-hari lainnya dengan menjalankan protokol kesehatan dan tetap mewaspadai risiko penularan virus. "Jadi bukan kita ingin hidup berdampingan, tapi hidup dengan waspada," katanya.

Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) itu mengatakan, proses menuju kenormalan baru di Indonesia tidak bisa dimulai serentak karena Indonesia mencakup banyak pulau dengan tingkat penularan Covid-19 berbeda. Ditambah lagi kondisi sosial budaya penduduk beragam. "Penerapan di Jakarta, Surabaya, tentu akan berbeda dengan daerah lain yang jauh lebih aman," kata JK.

BISNIS


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT