Mimpi Ai Nurhidayat Wujudkan Indonesia Damai Dalam Keberagaman
TEMPO.CO | 27/05/2020 17:51
Ai Nurhidayat.
Ai Nurhidayat.

INFO NASIONAL - “Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia,” sebaris kalimat dari Nelson Mandela ini menjadi pedoman bagi Ai Nurhidayat (usia 30 tahun), penggagas program multikultural sejak 2016 di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bakti Karya Parigi, Pangandaran, Jawa Barat. Seluruh alumni sekolah tersebut, kini menjadi agen toleransi.

Saat berkomunikasi dengan para alumni, Ai Nurhidayat merasakan semangat toleransi tertanam kuat dalam peri kehidupan anak didiknya. “Mereka memang punya passion di bidang masing-masing, tetapi perhatian pada isu keberagaman sangat kuat. Misalnya alumni di Kupang, Ambon atau yang dapat beasiswa di Atmajaya, Jakarta, kini menjadi aktivis, atau setidaknya aktif membawa semangat itu,” ujarnya saat dihubungi Info Tempo melalui sambungan telepon, Sabtu, 16 Mei 2020.

Bukti keberhasilan pada siswa didik ini disampaikan Ai Nurhidayat saat bertemu Dian Sastrowardoyo, aktris yang memiliki program beasiswa untuk siswa tak mampu, beberapa waktu lalu. “Kalau sekolah seperti ini ada di tiap kabupaten, saya yakin bisa mengubah pola pikir generasi muda di masa depan,” kata Dian Sastrowardoyo kepada Ai.

Ai Nurhidayat terus memperjuangkan mimpinya, Indonesia yang damai dalam keberagaman. Ia tak ingin anaknya bertumbuh dalam iklim yang intoleran serta isu SARA.

Tiga tahun lalu, Ai Nurhidayat terseret isu SARA imbas Pilkada di DKI Jakarta. SMK Bakti Karya dituduh sebagai lembaga pendidikan misionaris lantaran menyediakan sekolah gratis untuk semua siswa. Lewat mediasi di hadapan bupati, isu ini pun diklarifikasi. “Saat itu jumlah kelulusan angkatan tersebut hanya 13 siswa,” kata alumnus Universitas Paramadina Jakarta ini.

Ai dan siswa SMK Karya Bakti Parigi menghadapi tantangan lain saat pandemi Covid-19. Kegiatan sekolah diliburkan, 18 guru, 28 peserta didik dipulangkan ke orang tua, sedangkan 22 siswa bertahan di asrama karena berasal dari provinsi yang jauh. Sebelum pandemi, terdapat 75 donatur menjadi tumpuan siswa. “Sekarang banyak yang menarik diri, mungkin mereka juga mengencangkan ikat pinggang,” katanya.

Siswa yang tinggal di asrama bertahan hidup dengan menanam kebutuhan pangan di lahan seluas 3.600 meter persegi milik sekolah. Beruntung, musim panen padi tiba di saat bersamaan. Jika sebelumnya SMK mengandalkan crowd funding, sekarang ada program orang tua asuh dan kakak asuh yang disebut Bakti Karya Fellow dengan donasi Rp 100.000 ribu. Ada juga program Kampung Nusantara yang melibatkan masyarakat sekitar sebagai orang tua asuh membantu siswa mendapat penghasilan.

Memasuki tahun keempat, SMK Bakti Karya Parigi tetap melakukan penerimaan siswa baru pada Juni mendatang. SMK Bakti Karya memberikan beasiswa penuh, termasuk menginap di asrama untuk seluruh siswa. Ada empat jurusan di sekolah ini, yaitu School of Media, Kelas Ekologi, Kelas Multikultural dan Kelas Profesi. Pendidikan multikultural diajarkan di setiap jurusan.

Berkat upayanya memajukan dunia pendidikan, Ai Nurhidayat mendapat penghargaan dalam SATU Indonesia Awards 2019.

SATU Indonesia Awards kembali digelar tahun ini. Memasuki penyelenggaraan ke-11, Astra terus mencari generasi muda yang tak kenal lelah memberi manfaat bagi masyarakat.

Kategorinya yakni bidang Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, Teknologi dan satu kategori Kelompok yang mewakili lima bidang tersebut serta satu tambahan kategori Apresiasi Khusus bagi pejuang tanpa pamrih di masa pandemi Covid-19.

Pendaftaran dibuka sejak 2 Maret hingga 2 Agustus 2020 lewat link http://bit.ly/DaftarSIA2020 , atau melalui submit.satuindonesia@gmail.com , dan kontak ke 081290003314.(*)


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT