Cerita Dokter di Wisma Atlet: Menahan Rindu dan Salat Pakai APD
TEMPO.CO | 25/05/2020 09:02
Tenaga medis di Laboratrium tes Polymerase Chain Reaction (PCR) di Tower 4 Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Jumat 15 Mei 2020. Dokter dan tenaga medis harus dipastikan keamanan APD, mulai dari memakai hingga melepas melalui prosedur yang ketat untuk mengh
Tenaga medis di Laboratrium tes Polymerase Chain Reaction (PCR) di Tower 4 Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Jumat 15 Mei 2020. Dokter dan tenaga medis harus dipastikan keamanan APD, mulai dari memakai hingga melepas melalui prosedur yang ketat untuk menghindari tertular virus Covid-19, selain itu petugas medis juga memerlukan usaha yang besar karena harus menahan panas hingga buang air kecil selama kurang lebih 8 jam lamanya. TEMPO/Nurdiansah

TEMPO.CO, Jakarta - Harapan Erizal Azmi untuk berkumpul bersama keluarga kecilnya di Pekanbaru, Riau, pada saat Idul Fitri 2020 pupus. Saat wabah virus Corona jenis baru menyerang Indonesia, Erizal yang bertugas sebagai dokter di Pusat Kesehatan Angkatan Darat (Puskesad), dipindahtugaskan ke Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat.

Bertugas sejak hari pertama rumah sakit khusus Covid-19 itu diresmikan pada 22 Maret 2020, pria berusia 24 tahun tersebut harus menjalankan tugasnya hingga saat ini.

Selama 3 bulan tersebut, perwira di Puskesad itu harus merawat pasien dalam pengawasan (PDP) hingga yang positif. Jumlahnya bisa mencapai lebih dari 500 orang.

Bersama dokter dari TNI lainnya, ia bergiliran menjaga ruang rawat inap, high care unit (HCU), hingga di instalasi gawat darurat (IGD). Di hari lebaran ini, Erizal mendapat tugas di IGD.

"Memang hari ini spesial nampaknya. Nikmat yang Allah berikan saya harus bertugas dan diamanahkan menangani pasien, malyani masyarakat kita yang butuh. Kita jalani dengan ikhlas saja dan berikan yang terbaik, itu sudah kebahagian juga buat saya," ujar Erizal.

Selama bertugas di Wisma Atlet, protokol kesehatan ketat diterapkan bagi para dokter. Prosedur alat pelindung diri yang digunakan, kata Erizal, membutuhkan waktu hingga 30 menit untuk dikenakan. Selain itu, para dokter tinggal di salah satu tower steril di sana yang telah disiapkan. Selama 3 bulan Erizal tak pernah keluar dari komplek Wisma Atlet.

Di lebaran ini, ia bertugas sejak pukul 05.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB. Artinya, Erizal harus bekerja di saat Ibadah Salat Ied dilaksanakan. Di Wisma Atlet, tak ada Salat Ied berjamaah yang dilaksanakan. Baik pasien maupun petugas medis, melaksanakan salat sendiri-sendiri demi mencegah penularan.

Pun halnya dengan Erizal. Di tengah tugas jaganya, ia menyempatkan diri untuk melaksanakan ibadah satu tahun sekali tersebut. "Tadi ada waktu sekitar 3 menitan untuk salat. Kan salat sunnah, bisa sebentar saja. Ya tapi dengan keadaan yang ada, masih pakai APD," kata Erizal.

Erizal masih belum tahu kapan masa tugasnya akan selesai. Ia baru sebatas mendengar kabar bahwa kemungkinan masa tugasnya akan segera selesai dalam waktu dekat dan akan digantikan dengan dokter lain. Meski begitu, hal tersebut tak berarti ia bisa langsung pulang.

Para dokter yang selesai masa tugasnya, wajib menjalani karantina selama 14 hari di Wisma Atlet. Setelah selesai, Erizal mengatakan ia akan kembali ke Puskesad dan tinggal di Pusdikes di Kramat Jati, tempat ia sebelumnya tinggal. Ini adalah pulang terdekat yang bisa ia capai.

Meski rindu keluarganya di Pekanbaru, Riau, namun Erizal mengatakan belum bisa pulang kampung. "Untuk pulang, sepertinya dalam keadaan pandemi seperti ini, kami belum diperbolehkan. Jadi masih di sini sampai nanti petunjuk lebih lanjut," kata Erizal.

Sebenarnya, Erizal mengaku sudah rindu dengan orang tuanya di Rokan Hulu, Riau. Ia pun ingin bertemu dengan keluarga kecilnya yang tinggal di Pekanbaru. Apalagi dua anaknya saat ini masih berusia 2 tahun dan 3,5 tahun. Tahun lalu, Erzial juga mengaku tak bisa pulang karena masih menjalani pendidikan di Magelang, Jawa Tengah.

Ia terakhir bertemu dengan kedua anaknya pada akhir 2019. Saat itu, ia berencana memanfaatkan cuti hari raya Idul Fitri 2020 untuk melaksanakan lebaran di rumah. Namun rencana tinggal rencana. Hingga hari ini, Erizal harus tetap siaga dan melayani pasien Covid-19 yang datang ke Wisma Atlet.

Meski begitu, Erizal mengaku tak menyesal. "Kita jalani dengan ikhlas saja dan berikan yang terbaik, itu sudah kebahagiaan juga buat saya," kata dia.

Hingga Ahad, 24 Mei 2020, pemerintah mencatatkan total 22.271 kasus yang positif terpapar Corona di Indonesia. Dalam beberapa hari belakangan, angka penambahan semakin signifikan di atas 500 kasus per hari. Bahkan beberapa kali nyaris menembus angka 1.000 kasus. Angka mortalitasnya pun terhitung tinggi, yakni 1.372 orang.

Namun secercah harapan juga muncul dari para pasien yang berhasil pulih. Meski masih kecil, tercatat ada 5.402 orang yang dinyatakan dua kali negatif Covid-19 dan dinyatakan sembuh.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT