Kebanjiran Pemudik, Orang Tanpa Gejala Covid di Jatim Meningkat
TEMPO.CO | 23/05/2020 18:02
Sejumlah penumpang turun dari kapal KM Kirana IX yang bersandar di Dermaga Jamrud Utara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Selasa 19 Mei 2020. Pada H-5 Lebaran 2020 pemudik kapal laut di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya sampai saat ini terpan
Sejumlah penumpang turun dari kapal KM Kirana IX yang bersandar di Dermaga Jamrud Utara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Selasa 19 Mei 2020. Pada H-5 Lebaran 2020 pemudik kapal laut di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya sampai saat ini terpantu sepi. ANTARA FOTO/Didik Suhartono

TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan pemudik dari daerah episentrum Covid-19 berpotensi menjadi orang tanpa gejala. “Potensial menyebarkan dan menularkan siapa saja yang akan ditemui,” kata Khofifah dalam tayangan video di akun Youtube BNPB, Sabtu, 23 Mei 2020.

Khofifah mengatakan, jumlah OTG yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Jawa Timur selalu meningkat. Dari catatan yang dimilikinya, OTG di Jawa Timur semula hanya 21 persen, kemudian naik menjadi 26 persen. Dalam dua hari belakangan, angkanya mencapai 34 persen.

Menurut Khofifah, orang tanpa gejala ini banyak ditemui pada para pemudik. Berdasarkan data yang dimilikinya, sejak 16 Mret-22 Mei, ada 460 ribu orang yang kembali ke kampung halamannya di Jawa Timur.

OTG ini, kata Khofifah, tidak memiliki gejala deman, flu, batuk, dan pilek. Namun, tanpa disadari mereka adalah pembawa virus corona. Di sisi lain, jumlah pemudik yang datang ke Jawa Timur sejak 16 Maret-22 Mei 2020 mencapai 460 ribu orang.

Untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19, sebanyak 87 kelurahan atau desa menyiapkan ruang observasi bagi pendatang. “Mereka diobservasi selama 14 hari,” ujarnya.

Meski diobservasi, Khofifah mengingatkan bahwa tak ada jaminan para pendatang aman. Sebab, penyebaran Covid-19 masih masif. Sehingga, para pendatang dianjurkan mengikuti protokol kesehatan.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT