Sri Mulyani Patok Pertumbuhan Ekonomi 2021 Sebesar 4,5-5,5 Persen
TEMPO.CO | 12/05/2020 16:58
Ekspresi Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani saat memberikan keterangan pers tentang realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 per akhir Oktober 2019 di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin, 18 November 2019. Kementerian Keuangan mencatat
Ekspresi Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani saat memberikan keterangan pers tentang realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 per akhir Oktober 2019 di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin, 18 November 2019. Kementerian Keuangan mencatat realisasi belanja negara hingga 31 Oktober 2019 baru sampai 73,1 persen atau Rp1.798 triliun dari target APBN 2019 sebesar Rp 2.461,1 triliun. TEMPO/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengusulkan asumsi pertumbuhan ekonomi pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2021 sebesar 4,5-5,5 persen.

"Dengan mempertimbangkan segala risiko dan ketidakpastian yang ada, serta potensi pemulihan ekonomi global dan nasional di tahun depan," ujar dia dalam rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat, Selasa, 12 Mei 2020.

Belakangan, merebaknya wabah Virus Corona telah berdampak signifikan kepada pertumbuhan ekonomi di Tanah Air maupun global. IMF, misalnya, menurunkan proyeksinya hampir sebesar 6 persen dari proyeksi awal tahun.

Pada Januari 2020, IMF masih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global 3,3 persen. Namun, pada April 2020 proyeksi itu dikoreksi menjadi minus 3,0 persen. Koreksi juga terjadi pada realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang pada triwulan I 2020 hanya mencapai 2,97 persen.

"Hal ini mengindikasikan tekanan lebih berat akan dialami sepanjang tahun 2020, yang artinya pertumbuhan ekonomi terancam bergerak dari skenario berat sebesar 2,3 persen menuju skenario sangat berat yaitu kontraksi -0,4 persen," tutur Sri Mulyani.

Dengan kondisi tersebut, Sri Mulyani mengatakan kebijakan fiskal tahun 2021 mengangkat tema 'Percepatan Pemulihan Ekonomi dan Penguatan Reformasi'. Tema tersebut selaras dengan tema Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2021 yaitu 'Mempercepat Pemulihan Ekonomi dan Reformasi Sosial'. Pemilihan tema tersebut berkaitan dengan kondisi Indonesia yang menghadapi tantangan setelah mewabahnya virus Corona alias Covid-19 pada tahun ini.

Berkaitan dengan tema tersebut, fokus pembangunan Indonesia tahun depan adalah pada pemulihan industri, pariwisata, dan investasi, reformasi sistem kesehatan nasional dan jaring pengaman sosial serta reformasi sistem ketahanan bencana. "Fokus pembangunan ini diharapkan mampu menghidupkan kembali mesin ekonomi nasional yang sedang berada dalam momentum pertumbuhan," ujar Sri Mulyani.

Sri Mulyani menyebut usulan indikator makro untuk sebagai dasar menyusus RAPBN 2021 antara lain pertumbuhan ekonomi 4,5-5,5 persen, inflasi 2,0-4,0 persen, tingkat suku bunga SBN 10 tahun 6,67-9,56 persen, serta nilai tukar Rupiah Rp14.900-Rp15.300 per dolar Amerika Serikat.

Selain itu, harga minyak mentah Indonesia dipatok  US$ 40-50 per barel dengan lifting minyak bumi 677-737 ribu barel per hari. Adapun lifting gas bumi diperkirakan 1.085-1.173 ribu barel setara minyak per hari.

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT