Bupati Bogor Minta Operator KRL Tegas Jalani Pembatasan Penumpang
TEMPO.CO | 07/05/2020 22:41
Bupati Bogor Ade Yasin saat mengumumkan kasus COVID-19 di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (19/3/2020). ANTARA/M Fikri Setiawan.
Bupati Bogor Ade Yasin saat mengumumkan kasus COVID-19 di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (19/3/2020). ANTARA/M Fikri Setiawan.

TEMPO.CO, Jakarta - Bupati Bogor, Ade Yasin, mengatakan masih banyak penumpang kereta rel listrik (KRL) yang mengarah ke Jakarta. Padahal, ia menilai, para penumpang tersebut tidak punya urusan penting atau tak punya alasan jelas.

"Kalau yang tidak jelas ngapain diizinkan. Ketika saya turun ke lapangan kan masih banyak orang yang mau ke Jakarta dengan alasan tidak jelas," kata Ade, Kamis, 7 Mei 2020.

Ia pun meminta PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) memperketat pembatasan penumpang KRL. Terlebih setelah mengetahui ada tiga dari 325 penumpang kereta yang mengikuti tes swab di Stasiun Bogor beberapa waktu dan dinyatakan positif Corona.

"Kalaupun pemerintah tetap memutuskan KRL beroperasi, tentunya pembatasan penumpang harus diperketat atau seleksi dengan menunjukkan kartu identitas tempatnya bekerja (bekerja di delapan sektor yang dikecualikan)," tutur Bupati Bogor.

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Bogor itu menyebutkan rata-rata pasien positif Corona yang berdomisili di Kabupaten Bogor terpapar virus Corona saat menggunakan KRL. "Kami yakin salah satu penyebab maraknya positif itu karena KRL dan dari data yang ada rata-rata dari penumpang kereta. Kasus positif pertama yang di Bojonggede itu dari kereta," kata Ade Yasin.

Berdasarkan catatan Gugus Tugas COVID-19 Kabupaten Bogor, wilayah dengan jumlah warganya paling banyak terinfeksi Corona, yaitu zona merah yang terdapat stasiun KRL, seperti Kecamatan Cibinong dan Bojonggede. 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT