Pandemi Covid-19, BPS Tiadakan Sensus Tatap Muka
TEMPO.CO | 07/05/2020 09:52
Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto usai memberikan sosialisasi persiapan Sensus Penduduk 2020 di Gedung 3 BPS, Jakarta, Jumat 14 Februari 2020. TEMPO/EKO WAHYUDI
Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto usai memberikan sosialisasi persiapan Sensus Penduduk 2020 di Gedung 3 BPS, Jakarta, Jumat 14 Februari 2020. TEMPO/EKO WAHYUDI

TEMPO.CO, Jakarta - Kelapa Badan Pusat Statistik Suhariyanto mengatakan bahwa di tengah pandemi Covid-19, BPS tidak lagi bisa melaksanakan sensus secara tatap muka pada tahun ini. Akibat wabah Corona ini, BPS tidak bisa menjalankan sensus penduduk secara penuh sesuai rancangan awal.

Menurut Suhariyanto, pada awalnya mekanisme Sensus Penduduk 2020 tidak hanya melalui mekanisme secara online, melainkan juga menggunakan mekanisme tatap muka. Hal tersebut bertujuam untuk mengoptimalkan data.

Namun, karena menyebarnya wabah virus itu di Indonesia sejak pertengahan Maret dan ditetapkannya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), BPS belum bisa melanjutkan rancangan awal sensus penduduk. "Di awalnya memang kami merencanakan tatap muka terjun ke lapangan pada Mei 2020 tapi karena adanya Covid-19 kami rencanakan September. Tapi tidak yakin apakah Covid-19 juga selesai pada September," kata Suhariyanto dalam rapat virtual dengan komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat, Rabu malam, 6 Mei 2020.

Di samping itu, BPS juga telah memangkas anggaran sensus hingga 41 persen untuk menangani dampak Covid-19. "Kami akan libatkan ketua RT seluruh Indonesia yang mencapai 1,2 juta untuk distribusikan survei itu ke masing-masing rumah tangga," ujar dia.

Kendati begitu, Suhariyanto menambahkan, untuk memastikan sensus tersebut terpenuhi secara optimal pada 2021, BPS akan melakukan sampeling data untuk mengetahui proyeksi jumlah penduduk Indonesia teranyar. Namun, hal itu baru akan dilakukan jika wabah Covid-19 telah selesai tertangani di Indonesia.

Sedangkan pada masa PSBB, menurut Suhariyanto, BPS berkomitmen menertibkan data strategis itu. Karena, kata dia, hal itu penting agar BPS dapat melihat seberapa besar dampak ekonomi Covid-19.

 

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT