Jangan Gegabah Turunkan Harga BBM
TEMPO.CO | 29/04/2020 08:32
Papan harga penjualan bahan bakar di SPBU Pertamina kawasan Kuningan, Jakarta, Senin, 6 Januari 2020. Pertamina Dex turun harga dari semula Rp 11.700 menjadi Rp 10.200 per liter, dan Dexlite turun harga dari semula Rp 10.200 menjadi Rp 9.500 per liter. Te
Papan harga penjualan bahan bakar di SPBU Pertamina kawasan Kuningan, Jakarta, Senin, 6 Januari 2020. Pertamina Dex turun harga dari semula Rp 11.700 menjadi Rp 10.200 per liter, dan Dexlite turun harga dari semula Rp 10.200 menjadi Rp 9.500 per liter. Tempo/Tony Hartawan

PEMERINTAH tak perlu buru-buru menurunkan harga bahan bakar minyak. Pasar minyak memang sedang ambruk akibat merosotnya permintaan di tengah pandemi Covid-19. Tapi bandul ekonomi global masih berayun tak tentu arah. Harga minyak mentah dan gasolin yang sekarang murah bisa berbalik dalam sekejap.

Permintaan terhadap minyak sebenarnya sudah melorot sejak Covid-19 memukul Cina, Januari lalu. Lambannya negara-negara penghasil minyak mencapai kesepakatan pemangkasan produksi membuat kondisi pasar makin runyam. Minyak terus membanjiri pasar, sementara permintaan terus merosot akibat pandemi. Inilah yang mengakibatkan minyak West Texas Intermediate di pasar berjangka New York Mercantile Exchange sempat diperdagangkan dengan harga minus, US$ -37 per barel, pada awal pekan lalu.

Dewan Perwakilan Rakyat mendesak Pertamina segera menurunkan harga BBM. Mereka berdalih masyarakat yang kini terkena dampak Covid-19 membutuhkan BBM murah. Namun pemerintahlah yang menentukan harga BBM tertentu, seperti Premium dan solar. Permintaan Dewan itu seolah-olah benar, tapi pasar bisa sangat liar. Arab Saudi dan Rusia telah bersepakat memangkas produksi pada Mei dan Juni mendatang. Jika hal itu juga diikuti Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC), produksi akan dicekik dan harga akan membal ke atas dalam sekejap.

Keterburu-buruan hanya akan menimbulkan komplikasi. Sebab, jika harga minyak dunia kembali melonjak, tak akan mudah bagi pemerintah untuk menaikkan lagi harga BBM. Inflasi bakal melonjak, daya beli masyarakat bisa turun, hingga akhirnya berpotensi memicu kegaduhan politik. Sebaliknya, jika harga tak dinaikkan, beban keuangan negara bakal membengkak-yang pada akhirnya akan ditanggung Pertamina.

Dalam jangka pendek, harga BBM memang belum layak diturunkan. Bahan bakar minyak di terminal penjualan Pertamina sekarang ini merupakan produk hasil pengadaan terdahulu, ketika harga masih relatif lebih tinggi. Terlebih nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus melemah. Dibanding kurs awal tahun, rupiah telah melemah sekitar 19 persen. Jika harga BBM cepat-cepat diturunkan, Pertamina bukannya untung, malah bisa buntung.

Dampak Covid-19 terhadap Pertamina memang luar biasa. Pendapatan perseroan dari bisnis hulu hingga hilir sepanjang tahun ini diperkirakan tergerus 29-39 persen. Kondisi ini akan menambah beban Pertamina yang selama ini sudah berdarah-darah akibat berbagai kebijakan populis pemerintah, dari penugasan penjualan BBM satu harga hingga dibukanya kembali penyaluran Premium.

Perusahaan minyak negara ini sudah lama kerdil tak fleksibel merespons perubahan pasar. Lihat saja sekarang ini, kapasitas kilang dan tangki penampung minyak yang sudah lama tak bertambah telah mengganjal niat Pertamina untuk memborong minyak mentah dan gasolin ketika harga sedang rontok. Padahal, dengan harga pengadaan yang murah, perseroan berpeluang besar menangguk untung di masa mendatang.

Hambatan tersebut membuka persoalan lain yang lebih mendesak: meningkatkan kapasitas cadangan energi strategis nasional. Untuk menjalankannya, Pertamina harus dipastikan tetap sehat. Sebaliknya, Pertamina juga harus transparan menjalankan rencananya meminjam tangki dan menyewa tanker untuk menampung minyak impor. Selama ini, kita tahu, kerugian Pertamina juga disebabkan oleh para pemburu rente yang memanfaatkan beragam strategi bisnis perusahaan.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT