Kualitas Udara Meningkat, DKI: Hujan Cuci Atmosfer dari Polusi
TEMPO.CO | 01/04/2020 05:56
Petugas Sudin Lingkungan Hidup Jakarta Pusat melakukan uji emisi gratis untuk kendaraan di Pintu Utara Monas, Jakarta, Rabu, 17 Juli 2019. Uji emisi bertujuan untuk menciptakan kualitas udara di Jakarta agar bebas dari polusi kendaraan bermotor. TEMPO/Muh
Petugas Sudin Lingkungan Hidup Jakarta Pusat melakukan uji emisi gratis untuk kendaraan di Pintu Utara Monas, Jakarta, Rabu, 17 Juli 2019. Uji emisi bertujuan untuk menciptakan kualitas udara di Jakarta agar bebas dari polusi kendaraan bermotor. TEMPO/Muhammad Hidayat

TEMPO.CO, Jakarta - Kualitas udara Jakarta membaik karena kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH) selama pandemi COVID-19 serta curah hujan intens. 

Hal tersebut juga dibuktikan pada pantauan Air Quality Index (AQI) AirVisual pada 31 Maret 2020 yang diakses pukul 11.10. Jakarta pada urutan ke-40 dari urutan kota-kota berpolusi tinggi yang artinya kualitas udara Jakarta lebih baik dari 39 kota lainnya di dunia, dengan Air Quality Index (AQI) di angka 60.

"Hujan yang turun di Jabodetabek juga turut membantu tercucinya atmosfer dari polusi,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Andono Warih di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan, WFH bukanlah faktor tunggal untuk memperbaiki kualitas udara Jakarta.

Andono memaparkan, berdasarkan pemantauan di lima Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU) yang dikelola Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, hasilnya menunjukkan perbaikan kualitas udara, terutama menurunnya konsentrasi parameter PM 2.5 selama penerapan WFH.

“Namun, penurunan ini juga konsisten dengan tingkat curah hujan. Ketika curah hujan tinggi, konsentrasi parameter PM 2.5 menunjukkan penurunan dan ketika hari-hari tidak hujan, konsentrasi parameter PM 2.5 sedikit meningkat,” kata dia.

Selain itu, arah angin juga berpengaruh terhadap polutan jenis PM 2.5 ini atau partikel debu halus berukuran 25 mikrogram/m³ yang sangat berpengaruh pada kualitas udara Jakarta. "Arah angin yang mengarah ke Ibu Kota juga mempengaruhi konsentrasi parameter PM 2.5,” kata dia.



REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT