ODP Corona Jawa Barat Melonjak, Kepala Dinkes: Sebagian Pemudik
TEMPO.CO | 31/03/2020 23:16
Ilustrasi pemudik di Stasiun Senen, Jakarta. REUTERS/Darren Whiteside
Ilustrasi pemudik di Stasiun Senen, Jakarta. REUTERS/Darren Whiteside

TEMPO.CO, Bandung -Laman Pusat Informasi dan Koordinasi Covid-19 Jawa Barat atau Pikobar menunjukkan lonjakan jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) Corona di Jawa Barat.

Data terbaru hari ini, Selasa, 31 Maret 2020, pukul 20.00 WIB mencatatkan jumlah ODP virus Corona dari seluruh Jawa Barat menembus 12.517 orang. Sehari sebelumnya jumlahnya menembus 7.281 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Bara Berli Hamdani Gelung Sakti mengatakan, penambahan jumlah ODP berasal dari pemudik yang langsung mendapat status ODP, serta hasil tracing atau penelusuran dengan kontak positif COVID-19. “Sebagian pemudik, sebagian kontak tracing dari 4 klaster,” kata dia pada Tempo, Selasa, 31 Maret 2020.

Empat klaster yang dimaksudnya adalah klaster spesifik yang diperoleh sejumlah kasus positif Covid-19 di Jawa Barat. Yakni klaster Karawang yang mengikuti Musda HIPMI Jawa Barat, peserta acara kelompok keagamaan GBI di Lembang, peserta kelompok Seminar Ekonomi Syariah di Lembang, serta acara GBI di Bogor.

Berli tidak merinci masing-masing  penambahan tersebut. “Penambahan ODP terbesar umumnya dari BODEBEKKA (Bogor, Depok, Bekasi, dan Karawang), Sumedang, Indramayu, Tasikmalaya, Garut,” kata dia.

Situs Pikobar mencatat pada Selasa, 31 Maret 2020, pukul 20.00 WIB jumlah ODP dari seluruh Jawa Barat menembus 12.517 orang. Dari jumlah tersebut  baru 2.903 orang di antaranya yang dinyatakan selesai pemantauan, sisanya, 9.614 orang masih dalam proses pemantauan.

Situs Pikobar juga lonjakan kasus Pasien Dalam Pemantauan (PDP). Pada Selasa, 31 Maret 2020, pukul 20.00 WIB, jumlah PDP menembus 962 orang. Rincinya baru 239 orang dinyatakan selesai, dan 723 orang diantaranya masih dalam proses pengawasan. Sehari sebelumnya jumlah PDP berjumlah 850 orang.

Situs Pikobar juga merilis jumlah kasus positif COVID-19 di Jawa Barat menembus 180 orang. Dari jumlah itu 9 orang dinyatakan sembuh, dan 20 orang meninggal dunia. Sisanya masih dalam perawatan.

Berli mengatakan, penambahan kasus PDP dan positif Covid-19 tersebut diantaranya berasal dari hasil skrining tes cepat dengan alat Rapid-Tes. “PDP dan Kasus Positif karena lewat skrining Rapid-Tes yang dilanjutkan dengan PCR. Juga bersumber dari 4 klaster tersebut,” kata dia.

Berli mengatakan, penambahan PDP dan kasus positif tersebut masih bisa ditangani oleh rumah sakit yang sudah disiapkan. “Insya Allah ruang perawatan mencukupi karena kami terus berkoordinasi dengan para Direktur Rumsah Sakit untuk menambah kapasitas dan perlengkapan ruang ICU, isolasi, dan IGD,” kata dia.

Sebagian langkah mengantisipasi lonjakan pasien terkait Covid-19 tersebut diantaranya dengan fasilitas isolasi mandiri di kompleks gedung Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPDSM) Jawa Barat  di Jalan Kolonel Masturi Nomor 1 Kota Cimahi. “BPSDM untuk (perawatan kasus) PDP ringan-sedang. Gedung lain sedang dipersiapkan, termasuk gedung perawatan di rumah sakit,” kata Berli.

 

Situs Pikobar mencatat kasus positif Covid-19 menembus 180 orang. Dari jumlah itu 9 orang dinyatakan sembuh, dan 20 orang meninggal dunia. Sisanya masih dalam perawatan.

Kota Depok mencatatkan sebagai daerah dengan jumlah kasus positif Covid-19 terbesar di Jawa Barat, dengan 27 kasus positif aktif, 3 orang sembuh, dan 2 orang meninggal dunia.

Disusul Kota Bekasi dengan 27 kasus aktif. Posisi ketiga Kota Bogor dengan 16 kasus positif aktif, dan 2 orang meninggal dunia. Lalu Kota Bekasi 14 kasus positif aktif, 1 sembuh, dan 3 orang meninggal dunia.

Kabupaten Bogor mencatatkan 9 kasus positif aktif, serta Kota Bandung 8 kasus positif aktif, 4 orang sembuh, dan 6 orang meninggal dunia. Sebaran kasus positif Covid-19 di Jawa Barat terjadi di 19 kabupaten dan kota. 

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil kembali meminta puluhan ribu warga perantau di Jakarta agar tidak mudik.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT