Jumenengan 32 Tahun, Sultan HB X Ungkap Amanat Sakral Ayahanda
TEMPO.CO | 08/03/2020 06:06
Sri Sultan Hamengku Bawono menyampaikan pidato pada acara peringatan Jumenengan Dalem di Pagelaran, Keraton Yogyakarta, 18 Mei 2015. Sri Sultan HB X dinobatkan sebagai Raja Mataram Islam sejak 7 Maret 1989. TEMPO/Pius Erlangga.
Sri Sultan Hamengku Bawono menyampaikan pidato pada acara peringatan Jumenengan Dalem di Pagelaran, Keraton Yogyakarta, 18 Mei 2015. Sri Sultan HB X dinobatkan sebagai Raja Mataram Islam sejak 7 Maret 1989. TEMPO/Pius Erlangga.

TEMPO.CO, Yogyakarta - Bangsal Pagelaran Keraton Yogyakarta tampak bermandi cahaya dari kejauhan pada Sabtu petang, 7 Maret 2020. Malam itu, Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X atau Sultan HB X genap jumenengan atau bertahta selama 32 tahun menurut tarikh Jawa atau 31 tahun berdasar tarikh Masehi.

Ia dinobatkan sebagai raja ke-10 pada Selasa Wage, 7 Maret 1989 atau 29 Rejeb Tahun Wawu 1921.

Raja yang sebelum dinobatkan bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Hario (KGPH) Mangkubumi itu menuturkan momentum peringatan jumenengan dapat senantiasa memberi berkah dan rahmat agar selalu ditunjukkan di jalan lurus Allah.

"Jalan yang 31 tahun lalu saya ikrarkan dengan peneguhan tekad 'tahta bagi kesejahteraan sosial-budaya masyarakat'," ujar Sultan.

Sultan menuturkan ayahandanya, Sri Sultan HB IX, telah mengamanahkan kepadanya tekad yang memuat lima pesan yang harus selalu ia pegang teguh selama menjalankan kewajiban sebagai seorang raja. Sultan HB X dilarang bergeser barang se-inci pun dari tugas kesejarahan 'Tahta Untuk Rakyat'.

Lima tekad itu, pertama adalah tidak memiliki prasangka, iri, dan dengki pada siapapun. Kedua, tetap merengkuh orang lain walaupun yang bersangkutan tidak senang bahkan menaruh kebencian. Ketiga, tidak melanggar paugeran (adat istiadat) negara. Keempat, lebih berani mengatakan yang benar adalah benar dan salah adalah salah. Terakhir, tidak memiliki ambisi apapun kecuali hanya sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat.

Sebagai Sultan sekaligus Gubernur di era Yogya Istimewa saat ini, lalu apa amanatnya?

"Saya akan tetap menyalakan api semangat dari nama penuh makna itu, lebih dari sekedar pewaris tahta dan kedudukan sebagai sultan dan gubernur saja," ujar Sultan.

Langkah lanjut atas pertanyaan itu, Sultan menuturkan bertekad merevitalisasi peneguhan tekad itu dengan cara membangkitkan gerakan kebudayaan untuk mewujudkan mimpi rennaisance Yogyakarta.

Dalam peringatan jumenengan itu digelar pembukaan pameran budaya Jawa Abalakuswa : Hadibusana Keraton Yogyakarta di Bangsal Pagelaran Keraton Yogyakarta. Pada gelaran ini turut ditampilkan Fragmen Golek Menak dengan lakon ‘Jayengrana Jumeneng Nata' yang dapat disaksikan oleh masyarakat umum.

Adapun jalan ceritanya mengisahkan seorang Amir Ambyah (putra dari Adipati Mekkah, Abdul Mutolib), yang merupakan nama kecil dari Tiyang Agung Jayengrana yang sangat nakal saat masih kecil. Memasuki masa remaja dan dewasa, Amir Ambyah memutuskan untuk mengembara didampingi oleh Umarmaya dan Maktal. Mereka mengembara dan menyebarkan agami suci. Pada saat pengembaraannya, dia menemukan peninggalan Nabi Iskak, yakni Kuda Kalisahak.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT