Studi Kelayakan Jembatan Bangka-Sumatera Jalan Terus
TEMPO.CO | 06/03/2020 22:08
Pulau Maspari terletak di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Provinsi Sumatera Selatan, bakal dikembangkan menjadi wisata bahari terpadu. Dok. Aufa Syahrizal/Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel
Pulau Maspari terletak di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Provinsi Sumatera Selatan, bakal dikembangkan menjadi wisata bahari terpadu. Dok. Aufa Syahrizal/Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel

 

TEMPO.CO, Pangkalpinang - Pelaksanaan studi kelayakan/Feasibility Study (FS) proyek jembatan penghubung antara Pulau Bangka dengan Pulau Sumatera dipastikan akan tetap dilakukan. Meski proyek tersebut tidak masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), studi kelayakan akan jalan terus. 

Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Bangka Belitung Yopi Wijaya mengatakan, pelaksanaan studi kelayakan jembatan tersebut akan dilakukan oleh Kementerian PUPR pada tahun ini.

"Kita dari Pemerintah Provinsi Bangka Belitung sudah melakukan pra FS pada 2019 lalu. Tahapan setelah pra FS adalah pelaksanaan FS di 2020, melengkapi dokumen lingkungan di 2021, DED (Detail Engineering Design) di 2022 dan pembangunan fisik di 2023. Itu kalau lancar tahapannya," ujar Yopi kepada Tempo, Jumat, 6 Maret 2020.

Yopi menuturkan, ada tiga lokasi alternatif di Pulau Bangka yang akan ditetapkan sebagai lokasi jembatan. Ketiganya adalah Desa Sebagin Kabupaten Bangka Selatan, Desa Tanjung Pura Kabupaten Bangka Tengah dan Desa Belo Laut Kabupaten Bangka Barat.

"Di mana lokasi yang akan dibangun, akan ditekankan dalam FS nanti. Jadi memang ada pergeseran dari lokasi awal. Pertimbangannya adalah bagaimana jembatan ini dapat terkoneksi dengan tol Sumatera," ujar Yopi.

Untuk rencana awal, kata Yopi, pembangunan jembatan untuk posisi Pulau Bangka direncanakan di Desa Sebagin Kabupaten Bangka Selatan. Panjang jembatan sekitar 13 kilometer dengan biaya diprediksi senilai Rp 13 triliun.

"Namun kalau di lokasi itu pengembangan daerah lambat, karena untuk posisi yang Sumatera daerahnya masih belum berkembang. Kalau bicara percepatan pengembangan daerah, justru lebih efektif di Desa Belo Laut Kabupaten Bangka Barat karena langsung menuju tol Sumatera. Cuma biaya bertambah karena panjang jembatan mencapai 25 kilometer," Yopi menerangkan.

Hasil FS dari Kementerian PUPR lah yang nantinya menentukan, lokasi mana yang akan dibangun dari tiga alternatif tersebut. Saat ini proyek strategis nasional di Bangka Belitung yang masuk RPJMN hanya untuk jalan trans Bangka, trans Belitung dan Jembatan Nibung. "Kalau kita tetap mendukung proyek tersebut. Cuma tahun ini kita fokus dulu untuk pembangunan jalan trans Bangka, trans Belitung dan Jembatan Nibung," ujar dia.

 

SERVIO MARANDA


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT