Ridwan Kamil Jemput ABK Diamond Princess di Bandara Kertajati
TEMPO.CO | 01/03/2020 12:15
Suasana bangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, 24 Mei 2018. Proyek Infrastruktur yang dibangun di era pemerintahan Presiden Joko Widodo ini diduga melanggar HAM. ANTARA/M Agung Rajasa
Suasana bangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, 24 Mei 2018. Proyek Infrastruktur yang dibangun di era pemerintahan Presiden Joko Widodo ini diduga melanggar HAM. ANTARA/M Agung Rajasa

TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil akan menyambut langsung 68 WNI ABK Diamond Princess. Ridwan Kamil akan menyambut para WNI itu di Bandara Kertajati, Majalengka.

Pesawat dari Jepang yang membawa para WNI itu akan transit di Kertajati. Selanjutnya, para WNI kru Diamond Princess tersebut diberangkatkan dengan kapal dari Indramayu menuju Pulau Sebaru, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Minggu malam, 1 Maret 2020.

Seperti diketahui, di kapal pesiar Diamond Princess sejumlah penumpang dikabarkan terinfeksi virus Corona. “Pak Gubernur Jawa Barat akan ke Kertajati selepas menghadiri acara di Cianjur. Dapat telepon dari Pangdam barusan,” demikiran informasi dari pihak protokoler Pemprov Jabar melalui layanan pesan singkat.

Direktur Utama PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (PT BIJB) Salahudin Rafi mengatakan proses penerbangan dari Yokohama ke Kertajati seluruhnya dibawah pengendalian dan koordinasi Kementerian Kesehatan.

“Iya, Kegiatan langsung dibawah Kementerian Kesehatan, Bandara KJT (Kertajati) menyiapkan fasilitas terkait penerbangan,” ujar Salahudin.

Salahudin mengaku pihaknya belum mendapat kepastian pukul berapa pesawat dari Jepang akan mendarat di Bandara Kertajati. Pihaknya baru dikabari jika pesawat kemungkinan mendarat malam nanti. “Belum terupdate infonya, rencana malam ini,” kata Salahudin.

Sebelumnya diberitakan bahwa 68 WNI ABK Diamond Princess akan menjalani masa observasi selama 28 hari di Pulau Sebaru, Kepulauan Seribu. Masa observasi ini berbeda dengan dengan WNI dari Wuhan, yang menjalani observasi selama 14 hari di Natuna.

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT