PGRI Minta Kwarnas Pramuka Tak Cuci Tangan Kasus Susur Sungai
TEMPO.CO | 27/02/2020 23:32
Warga dan petugas memadati pinggir Sungai Sempor Sleman tempat musibah terseretnya para siswa SMPN 1 Turi Sleman saat susur sungai pada Jumat (21/2). Tempo/Pribadi Wicaksono
Warga dan petugas memadati pinggir Sungai Sempor Sleman tempat musibah terseretnya para siswa SMPN 1 Turi Sleman saat susur sungai pada Jumat (21/2). Tempo/Pribadi Wicaksono

TEMPO.CO, Yogyakarta - Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rosyidi berharap beban tanggung jawab kasus susur sungai di Sleman, Yogyakarta, tak hanya dilimpahkan kepada para guru SMPN 1 Turi Sleman yang kini ditahan dan dijadikan tersangka oleh kepolisian.

Menurut Unifah, para guru yang notabene juga mengampu mata pelajaran sekolah terpaksa harus merangkap menjadi pembina Pramuka. Ini karena kegiatan kepramukaan bersifat wajib sebagai ekstrakurikuler sekolah.

"Padahal dalam kepramukaan mengatur tentang berbagai kegiatan yang sifatnya outdoor. Sementara sumber daya manusia guru di sekolah sendiri sangat terbatas," ujar Unifah usai menyambangi tersangka susur sungai di Polres Sleman, Yogyakarta, Kamis, 27 Februari 2020.

Karena itu, Unifah pun meminta Kwartir Nasional Pramuka juga pasang badan atas tragedi itu. Kwarnas Pramuka diharap tidak membiarkan guru yang ditunjuk jadi pembina Pramuka menanggung beban sendiri.

"Jangan sampai kemudian guru-guru nanti jadinya takut dan tak mau lagi jadi pembina Pramuka," kata Unifah.

Pramuka, menurut Unifah, juga mesti meninjau ulang program kegiatan luar ruangnya agar peristiwa yang menewaskan 10 siswa itu tak terulang. "Sebab kegiatan susur sungai ini pun kegiatan rutin outdoor. Hanya saja kemarin mungkin para guru yang mendampingi lengah karena rutinnya kegiatan ini," ujar Unifah.

Dalam insiden ini, polisi menetapkan tiga guru yang juga pembina Pramuka SMPN 1 Turi Sleman sebagai tersangka. Mereka adalah Riyanto, 58 tahun; Danang Dewo Subroto, (58 tahun); dan Isfan Yoppy Andrian, (36 tahun).

PGRI sempat mengusulkan penangguhan penahanan bagi mereka. Namun, ketiga tersangka menolak upaya penangguhan penahanan itu dan memilih tetap bertahan di tahanan Mapolres Sleman. "Para guru ini bersepakat tidak mau ada penangguhan penahanan sebagai bentuk pertanggungjawaban dan empati pada korban," ujarnya.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT