Pemerintah Siap Impor Gula dari India Sebelum Musim Produksi
TEMPO.CO | 22/02/2020 05:33
Petani tebu dari berbagai daerah di Indonesia menaburkan gula import saat aksi demo didepan istana negara, 28 Agustus 2017. Petani tersebut menuntut harga gula yang merosot tajam rata-rata Rp 9.000-9.500/kg, jauh dibandingkan tahun 2016 yang rata-rata Rp
Petani tebu dari berbagai daerah di Indonesia menaburkan gula import saat aksi demo didepan istana negara, 28 Agustus 2017. Petani tersebut menuntut harga gula yang merosot tajam rata-rata Rp 9.000-9.500/kg, jauh dibandingkan tahun 2016 yang rata-rata Rp 11.000-11.500/kg. TEMPO/Rizki Putra
TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Kasdi Subagyono mengatakan stok gula dalam negeri masih mencukupi hingga April lantaran ada sisa tahun lalu (carry over) over sekitar 1 juta ton. Untuk memenuhi stok 2020, Kasdi mengatakan pemerintah bersiap mengimpor gula mentah sebelum musim produksi atau giling yang dimulai sekitar Mei mendatang. 

Pemerintah memutuskan akan mengimpor gula mentah atau raw sugar dari berbagai negara, seperti Thailand dan Australia untuk kebutuhan gula konsumsi atau gula kristal putih (GKP). Selain itu, India juga akan menjadi pemasok gula impor mentah yang akan diolah jadi GKP di dalam negeri. "Rencana impor GKM dari India akan segera direalisasikan," ujar Kasdi kepada Tempo, Jumat 21 Februari 2020. 

Soal impor gula dari India ini, Kasdi mengatakan telah diputuskan oleh Kementerian Koordinator Perekonomian bahwa Indonesia akan impor raw sugar untuk kebutuhan konsumsi (non-industri) sebanyak 495 ribu ton. Volume impor gula tersebut merupakan kesepakatan untuk alokasi impor tahun 2019 yang belum terealisasi. 

"Terakhir kan [terkendala] soal ICUMSA. Itu nanti untuk persyaratan dari India untuk masuk," kata Kasdi beberapa waktu lalu. 
 
Pekan lalu, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan, Kemenko Perekonomian, Iskandar Simorangkir pemerintah juga melakukan diversifikasi impor gula sejak akhir tahun lalu. Jika biasanya dari Thailand, Australia, atau Brazil, pemerintah mencoba membuka keran dari India. Pemerintah menurunkan bea masuk Gula Kristal Rafinasi (GKR) asal India menjadi 5 persen. Kebijakan ini merupakan barter untuk memudahkan sawit Indonesia masuk India.
 
“Ini juga untuk memudahkan peralihan impor, kalau Australia tersendat, bisa India,” kata Iskandar. 
 
Selain bea masuk, pintu masuk impor gula India ini sudah disiapkan pemerintah sejak tahun lalu. Dalam Konferensi Tingkat Tinggi Negara Asia Tenggara pada November di Thailand tahun lalu. Pemerintah Indonesia menjalin kesepakatan dengan India agar tidak akan membedakan persyaratan ekspor produk kelapa sawit Indonesia dengan Malaysia. Imbal baliknya lndonesia bersedia membeli gula khususnya GKM.

Untuk mengakomodasi impor gula India, pemerintah mengubah standar ICUMSA (International Commission For Uniform Methods of Sugar Analysis) dari 1.200 menjadi 600. India umumnya memiliki ICUMSA 600 IU untuk gula mentah. Keputusan ini didukung oleh pencabutan keputusan Badan Standardisasi Nasional (BSN) Nomor 100 Tahun 2008 dan Nomor 159 Tahun 2011 yang mengatur standar gula kristal mentah pada 17 Februari lalu. 

Melansir dari the Economic Times, otoritas India pun telah menyampaikan rencana ekspor 250 ribu ton gula mentah ke Indonesia hingga Mei tahun ini. India akan kembali membidik Indonesia setelah Thailand sebagai negara pemasok utama gula mentah ke Indonesia mengalami penurunan produksi akibat kekeringan. 
 


"Ini kesempatan emas bagi kami, untuk ekspor gula ke Indonesia," tutur Direktur Pelaksana Federasi Nasional Koperasi Pabrik Gula Prakash Naiknavare. Dengan begitu, India akan mengalihkan produksi gula putih menjadi gula mentah selama dua bulan hingga musing giling berakhir. 

Sekretaris Perusahaan Perum Bulog Awaludin Iqbal mengatakan telah meminta penugasan kepada pemerintah untuk mengimpor gula kristal putih sebanyak 200 ribu ton untuk menstabilkan harga gula dan antisipasi kebutuhan saat periode Ramadan dan Lebaran. Untuk impor gula dari India, Awaludin belum bisa memastikan. "Impor India itu bisa jadi alternatif. Secara umum kita buka semua (pintu impor). Tapi kami tak mau berandai-andai dulu, yang penting memberikan penugasan dulu," tutur Awaludin. 

Ketua Forum Lintas Asosiasi Industri Pengguna Gula Rafinasi (FLAIPGR) Dwiatmoko Setiono mengatakan terbuka menerima impor dari India asalkan bisa bersaing dengan produk yang lebih dulu masuk, yaitu dari Thailand, Filipina, Australia, dan Brazil yang unggul dengan kualitas dan harga. Dwiatmoko mengatakan produksi gula dalam negeri memang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sekitar 2,5 jt ton dan industri sekitar 3,5 juta ton per tahun.

"Pasokannya jelas kurang sehingga harus impor dalam bentuk raw sugar yang diolah oleh sebelas pabrikan rafinasi di Indonesia," ujar Dwiatmoko. "Yang penting harga, kualitas, ongkos angkut, dan pasokannya berkelanjutan."

Sementara itu, Sekretaris Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Dwi Purnomo Putranto meragukan pasokan gula asal India akan berkelanjutan lantaran surplus antara produksi dan konsumsi yang tipis. Selain itu, kata Dwi, pemerintah juga tak perlu mengubah standar ICUMSA jika ingin mengakomodasi gula India, cukup menggunakan kewenangan Menteri Perdagangan.

"Aturan ICUMSA sebelumnya telah terbukti mampu melindungi industri gula dalam negeri dan tidak menghambat produksi GKR, oleh karena itu sebaiknya perlu dipertahankan," ujar Dwi.

Pemerintah juga dinilai perlu meninjau kembali batasan ICUMSA gula mentah yang dapat diimpor dengan mengubah Pasal 2 (dua) Permendag No 117 Tahun 2015 dengan waktu pemberlakuan terbatas, misalnya maksimum 1-2 tahun, serta pelaksanaannya diawasi dan dievaluasi. Dwi mengatakan ICUMSA gula lokal saat ini sudah 100-300. Adapun gula mentah dengan ICUMSA 600 sudah terlihat seperti gula konsumsi, sehingga rawan diselewengkan. 
 
Selain itu, perlu adanya evaluasi atas konsistensi lndia dalam importasi kelapa sawit dari Indonesia. "Agar keuntungan skema perdagangan benar-benar dinikmati oleh kedua negara secara adil dan seimbang," ujar Dwi. 

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional menunjukkan rata-rata harga gula pasir nasional Rp 14.700 per kilogram, masih sama dengan kemarin. Meskipun harga gula per hari ini relatif tak naik dibandingkan hari sebelumnya, Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Tradisional (Ikappi) Abdullah Mansuri memprediksi harga masih akan naik.

Menurut dia, setiap Jumat memang permintaan tidak banyak sehingga tak mempengaruhi harga. "Biasanya tak banyak permintaan (pada Jumat). Sabtu-Minggu yang cukup tinggi permintaan," tutur Mansuri. 


THE ECONOMIC TIMES | FAJAR PEBRIANTO | LARISSA HUDA

REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT