Tujuh Lokasi Jadi Fokus Pencarian Siswa SMPN 1 Turi Sleman
TEMPO.CO | 22/02/2020 02:12
Warga dan petugas berkerumun saat upaya evakuasi siswa SMPN 1 Turi yang tenggelam di Kali Sempor, Turi, Sleman, D.I Yogyakarta, Jumat, 21 Februari 2020. Badan Penanggulangan Bencana Daerah DI Yogyakarta menghimbau agar warga tidak ke lokasi karena berbaha
Warga dan petugas berkerumun saat upaya evakuasi siswa SMPN 1 Turi yang tenggelam di Kali Sempor, Turi, Sleman, D.I Yogyakarta, Jumat, 21 Februari 2020. Badan Penanggulangan Bencana Daerah DI Yogyakarta menghimbau agar warga tidak ke lokasi karena berbahaya dan mempersulit gerak petugas. Twitter/@TRCBPBDDIY

TEMPO.CO, Yogyakarta: Pencarian para siswa SMP N 1 Turi Sleman yang menjadi korban susur sungai di Sungai Sempor, Dukuh Donokerto Turi Sleman Jumat sore 21 Februari 2020 masih berlanjut hingga tengah malam.

Data resmi yang berhasil dihimpun Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DI Yogyakarta hingga pukul 23.00 WIB Jumat, 21 Februari 2020,  dari total 249 siswa terdiri dari 124 siswa kelas VII dan 125 kelas VIII, jumlah korban meninggal yang ditemukan dan teridentifikasi sebanyak enam orang.

Sedangkan berdasar daftar hadir siswa dan konfirmasi dari siswa maupun wali murid, masih ada empat orang dalam pencarian. Untuk operasi pencarian yang berlanjut hingga tengah malam difokuskan pada pemantauan.

"Petugas lapangan tidak direkomendasikan melakukan penyisiran atau penyelaman sungai Sempor dengan pertimbangan keamanan dan keselamatan," ujar Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD DIY Danang Samsurizal.

Adapun titik pemantauan pencarian korban tragedi Sungai Sempor yang belum ditemukan, sampai tengah malam disebar di tujuh titik. Meliputi Dam Matras, Dam Bubrah, Dam Lengkong, Dam Polowidi, Dam Watu Gajah, Dam Gawar dan Tempuran Bedog.

Operasi pencarian dan penyelamatan tetap berlanjut hingga tengah malam. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan banyaknya pihak yang membantu, dan besarnya harapan korban dapat segera ditemukan serta diharapkan masih ada korban yang bertahan hidup.

"Besar harapan keluarga dan masyarakat agar korban dapat ditemukan," ujarnya. Dukungan masyarakat juga mengalir baik dukungan langsung maupun melalui media sosial.

Kepala Stasiun Klimatologi Sleman Yogyakarta Reni Kraningtyas mengimbau seluruh warga tetap mewaspadai potensi kejadian cuaca ekstrim. Yaitu hujan lebat disertai kilat petir dan angin kencang, ataupun hujan dengan durasi yang panjang, karena dapat berdampak terjadinya longsor, banjir dan banjir bandang.

Reni mengatakan kondisi cuaca ekstrim tersebut dipicu oleh pertumbuhan awan-awan konvektif (awan cumulonimbus) secara intensif.

Dugaan sementara penyebab siswa terseret arus karena tiba tiba ada luapan air sungai secara cepat saat mereka sedang menyusuri kali Sempor.

Sebagian siswa bisa selamat namun tak sedikit yang ikut terseret derasnya arus sungai yang merupakan anak dari Kali Bedog, salah satu sungai yang berhulu di puncak Gunung Merapi itu.

"Kejadian banjir bandang umumnya dipicu oleh hujan dengan intensitas lebat atau hujan berdurasi panjang, yang terjadi di hulu sungai," kata Reni.

Kejadian banjir bandang ini sering ditandai dengan terlihatnya awan hitam tebal ke arah hulu sungai, meskipun cuaca di daerah hilir sungai cerah/ tidak hujan.

BMKG sebelumnya memprediksi bahwa bulan Februari ini masih merupakan puncak musim hujan dan cuaca ekstrim masih akan terjadi sampai dengan Maret 2020. Oleh karena itu, masyarakat diimbau agar dapat menyesuaikan aktivitas mereka dengan selalu memonitor info cuaca dan peringatan dini BMKG melalui berbagai kanal resmi yang tersedia.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman Joko Suprianto menjelaskan tragedi Sungai Sempor bermula saat 250 murid SMPN 1 Turi Sleman melakukan kegiatan pramuka dengan menyusuri Sungai Sempor. Ketika melakukan penyusuran tersebut, arus air tiba-tiba deras dan volume air meningkat akibat kiriman dari hulu sungai.

PRIBADI WICAKSONO


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT