Bupati Natuna Minta Pusat Tingkatkan Fasilitas Kesehatan
TEMPO.CO | 16/02/2020 09:25
Warga Negara Indonesia (WNI) yang dievakuasi dari Wuhan, Provinsi Hubei, China berfoto bersama usai menjalani masa observasi di Hanggar Pangkalan Udara TNI AU Raden Sadjad, Ranai, Natuna, Kepulauan Riau, Sabtu, 15 Februari 2020. Pemerintah melalui Kemente
Warga Negara Indonesia (WNI) yang dievakuasi dari Wuhan, Provinsi Hubei, China berfoto bersama usai menjalani masa observasi di Hanggar Pangkalan Udara TNI AU Raden Sadjad, Ranai, Natuna, Kepulauan Riau, Sabtu, 15 Februari 2020. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan secara resmi telah memulangkan 238 WNI ke daerah masing-masing karena telah dinyatakan sehat. ANTARA

TEMPO.CO, Jakarta - Bupati Natuna Abdul hamid Rizal berharap pemerintah pusat meningkatkan fasilitas kesehatan setempat. Permintaan ini diungkapkan setelah Natuna menjadi lokasi observasi WNI dari Wuhan, Cina.

"Harapan kami, pemerintah pusat dapat menambah fasilitas kesehatan bagi rumah sakit kami," kata Abdul Hamid Rizal di Natuna, Ahad, 16 Februari 2020.

Saat ini, Rumah Sakit Umum Daerah Natuna masih bertipe C. Abdul Hamid berharap, fasilitas itu bisa ditingkatkan sehingga bisa menjadi tipe A, atau setidaknya tipe B.

"Karena Natuna wilayah perbatasan yang jauh dari mana-mana. Sehingga kalau terjadi hal seperti ini tidak perlu jauh-jauh, karena rumah sakit bisa menangani," ujar Abdul Hamid.

Selama ini, untuk penyakit-penyakit tertentu, masyarakat Natuna harus berobat hingga ke Kota Tanjungpinang, Kota Batam, dan Kota Pontianak karena minimnya fasilitas di Natuna.

Padahal, jarak dari Natuna ke Tanjungpinang atau Batam relatif jauh. Untuk perjalanan laut, dibutuhkan waktu hingga 2 hari dari Tanjungpinang atau Pontianak.

Sedang di pulau-pulau penyangga, ia mengatakan sudah ada Puskesmas dengan fasilitas cukup, seperti di Pulau Subi, Serasan. "Di Pulau Laut, sudah Pusekesmas rawat inap. Harapannya semua Puskesmas dibikin bagus," kata dia.

Selain peningkatan fasilitas rumah sakit, Pemkab Natuna juga berharap pemerintah membangun bandara sipil berstandar internasional. Saat ini, penerbangan sipil masih menggunakan landasan Lanud Raden Sadjad. "Kami harap bandara sipil," kata Abdul Hamid.

Pemerintah setempat juga berharap dibangun pelabuhan internasional, agar kegiatan ekspor hasil bumi Natuna bisa langsung terkirim ke negara tujuan. Selama ini, hasil bumi Natuna diekspor melalui Batam dan Jakarta.

Seperti diketahui, karantika WNI yang dievakuasi dari Wuhan berakhir pada Sabtu kemarin. Masyarakat Natuna sempat menolak daerahnya jadi tempat karantina karena khawatir terhadap penyebaran virus corona.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT