Pemindahan Ibu Kota, Pemkot Bogor Ajak Pengusaha Cari Solusi
TEMPO.CO | 05/02/2020 23:09
Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bogor terpilih 2019-2024 Bima Arya (kiri) dan Dedie A. Rachim (kanan) menyapa warga Bogor saat inagurasi Pelantikan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bogor di Tugu Kujang, Kota Bogor, Ahad, 21 April 2019. ANTARA/Arif Firmansyah
Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bogor terpilih 2019-2024 Bima Arya (kiri) dan Dedie A. Rachim (kanan) menyapa warga Bogor saat inagurasi Pelantikan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bogor di Tugu Kujang, Kota Bogor, Ahad, 21 April 2019. ANTARA/Arif Firmansyah

TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Kota Bogor mengajak pimpinan dan anggota himpunan pengusaha muda Indonesia atau HIPMI cabang Kota Bogor agar bersama-sama mencari solusi menyikapi rencana pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Kalimantan Timur.

"Kalau ibu kota negara Indonesia sudah pindah ke Kalimantan Timur, tentunya akan memberikan dampak perekonomian terhadap Kota Bogor, sehingga harus disikapi dan dicari solusinya," kata Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim dalam sambutannya ketika membuka rapat kerja cabang (Rakercab) HIPMI Kota Bogor, di Gedung DPRD Kota Bogor, Rabu, 5 Februari 2020.

Menurut Dedie A Rachim, Kota Bogor yang secara geografis dekat dengan Jakarta sebagai ibu kota negara, banyak mendapat keuntungan secara ekonomi dari Jakarta. "Bogor memiliki lebih dari 100 hotel bintang dan melati. Tingkat hunian selalu tinggi, karena banyak kegiatan dari kementerian dan lembaga, maupun kegiatan dari swasta, yang diselenggarakan di Kota Bogor," katanya.

Dedie menjelaskan pada hari kerja yakni, Senin hingga Jumat, banyak kegiatan dari kementerian dan lembaga, maupun kegiatan dari swasta yang diselenggarakan di Kota Bogor. "Sedangkan pada akhir pekan, banyak wisatawan yang menginap di hotel di Bogor," katanya.

Menurut Dedie, kalau ibu kota negara pindah dari Jakarta ke Kaltim, lalu siapa yang akan mengisi kegiatan-kegiatan di hotel berbintang maupun hotel melati di Bogor. "Ini perlu dicari solusinya, agar tingkat hunian di hotel tetap tinggi," katanya.

Dedie menambahkan, kalau banyak kegiatan dan wisatawan memanfaatkan hotel di Bogor, tentunya akan belanja di luar hotel sehingga bisnis kuliner juga menjadi ramai.

Pilihan hotel di jantung kota Bogor, Amaroossa Royal Bogor

Menurut Dedie, Kota Bogor harus dapat menyiapkan diri sebagai kota wisata yang mandiri, sehingga tidak tergantung pada ibu kota negara yang akan pindah. Dalam upaya menyiapkan diri sebagai kota wisata dan kota jasa yang mandiri, menurut Dedie, Pemerintah Kota Bogor, terus menata dan membangun Kota Bogor.

Dedie mencontohkan, Pemerintah Pusat akan membangun moda transportasi lintas rel terpadu (LRT) sampai ke Terminal Baranangsiang di Kota Bogor. Karena itu, kata dia, Kota Bogor akan menyiapkan moda transportasi "feeder" nya yakni trem dari Terminal Baranangsiang ke Stasiun Bogor.

Pemerintah Kota Bogor juga akan akan menata moda transportasi lainnya, seperti angkutan kota dan ojek online, sehingga arus lalu lintas di Kota Bogor menjadi lebih lancar.

Ketua HIPMI Kota Bogor, Zulfikar Priyatna mengatakan, HIPMI Kota Bogor, mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Bogor yang mengantisipasi rencana pemindahan ibu kota negara.

Menurut Zulfikar, pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur, tentunya memberikan banyak dampak, peluang, dan tantangan, yang harus disikapi. "HIPMI siap untuk turut berkontribusi bagaimana membangun Kota Bogor bisa lebih berkembang," katanya.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT