Mereka yang Hidup Dalam Cincin Api
TEMPO.CO | 20/01/2020 07:30
Letusan abu vulkanik terlihat keluar dari
Gunung Api Taal
Letusan abu vulkanik terlihat keluar dari Gunung Api Taal

Ketika Adriano O Mantiel, seorang pekerja di bagian pemeliharaan di provinsi Rizal (16 kilometer ke Timur Manila), mengusap abu dari layar telepon genggamnya pada 12 Januari 2020, ia tahu ada sesuatu yang salah.

Ia bercerita kepada Tim Ceritalah, "Awalnya saya pikir hujan. Tetapi ketika hal itu terjadi, alergi saya langsung kambuh. Saya langsung bersin-bersin. Mata saya menjadi merah dan saya sesak napas."

"Itu" adalah erupsi Gunung Berapi Taal -70 kilometer ke selatan Manila di provinsi Batangas- minggu lalu, dalam aktivitas seismik pertamanya dalam empat puluh tahun.

Kilat menyambar saat debu erupsi menyembur dari kawah

Pemandangan ketika Taal mengalami erupsi dan gambar-gambar gumpalan abu yang membumbung tinggi ke langit, dihiasi dengan petir dan geldek dengan cepat tersebar ke seluruh penjuru dunia melalui media sosial hanya dalam hitungan menit.

Pulau Luzon di Filipina (tempat Manila dan Taal berada) langsung terkunci ketika penerbangan dari dan keluar pulau dialihkan atau bahkan dibatalkan. Bursa saham ditutup, begitu juga dengan bisnis-bisnis lainnya. Ini terasa seperti sebuah antisipasi terburuk untuk wilayah dengan penduduk berjumlah 24 juta jiwa di Metro Manila, mereka terdiam dan menahan nafas.

Tentunya ketakutan terburuk adalah bagi mereka yang hidup dekat dengan gunung berapi – bisa jadi yang paling mencengangkan di Cincin Api Asia Tenggara – yang terbentang dari Filipina bagian utara hingga Sulawesi dan Maluku serta Jawa dan Sumatra jauh di sebelah barat.

Gunung Berapi Taal yang kecil terletak di pulau kecil di tengah-tengah danau kaldera. Ada kota-kota kecil seperti Tagatay di punggung bukitnya. Kota-kota kecil ini dalam beberapa tahun terakhir telah berubah menjadi tempat bermain untuk orang-orang kaya Manila – dengan restoran mewah bernama Antonio’s (tempat para miliarder datang dengan helikopter) serta butik yang tak kalah mewah bernama Sonya’s Garden sebagai atraksi utama.

Restoran mewah Antonio - saat ini tutup - di Tagaytay kerap didatangi oleh para elit Manila

Namun, pada 12 Januari, semuanya berubah. Yang terjadi adalah kekacauan ketika pihak berwenang berjibaku untuk mengevakuasi masyarakat di sekitar Gunung Berapi – meninggalkan kedua tempat tadi dalam keadaan tidak beroperasi. Dalam kurun waktu empat hari, 82.000 orang harus mengungsi serta menyebabkan kerugian yang menumpuk.

Kejadian ini bukannya tanpa peringatan: Gunung Taal sudah berada pada kondisi waspada Level 1 pada Maret 2019 karena terekam getaran-getaran vulkanik. Terlebih lagi gunung tersebut memang sangat aktif dalam beberapa abad terakhir – dengan 34 erupsi yang tercatat dalam sejarahnya.

Namun, tetap saja orang-orang memilih untuk tinggal dan berkunjung ke sana. Pada 2018, kota di daerah tersebut yang bernama Talisay saja diberitakan menerima sebanyak 600.000 pengunjung.

Untuk kita yang hidup di luar Cincin Api – di Asia Tenggara daratan serta pulau Kalimantan, rasanya sulit membayangkan bagaimana gentingnya hidup dikelilingi gunung berapi dan kemungkinan gempa bumi, tsunami, hingga pencairan tanah atau melemahnya kualitas tanah – yang belakangan ini terjadi di Tsunami Palu 2018, ketika tanah kehilangan pijakannya dan fasilitas yang ada di atasnya hanyut dalam lautan lumpur.

Untuk orang Malaysia dan Thailand, hal tersebut tidaklah terbayangkan. Kami bisa hidup dengan tenang karena tanah yang kami hidupi tidak bergerak dan tidak berubah.

Meski demikian, abu vulkanik, meskipun berbahaya apabila dihirup, memiliki banyak kegunaan – memperkaya tanah dengan nutrisi yang pada akhirnya membantu panen.

Adriano O Mantiel, umur 46 tahun, berdiri di depan kondominium tepat ia bekerja untuk empat tahun terakhir

Adriano, yang menonton ledakan tersebut di televisi, terkaget-kaget dengan betapa tebalnya abu di lingkungannya – meski ia hidup sejauh 84 kilomter dari gunung berapi tersebut.

Ia meminta istrinya untuk membeli masker wajah: "Tapi ya toko-toko sudah kehabisan stok karena diborong penimbun."

Dan hal ini menjadi lebih buruk lagi. Institut Volkanologi dan Seismologi Filipina (PHIVOLCS) sudah mengeluarkan peringatan level 4, menandakan tingginya kemungkinan erupsi berbahaya.

Berdasarkan data historis, ada dua skenario terburuk. Satu: erupsi yang terjadi berhari-hari. Kedua: erupsi terjadi berminggu-minggu. Di mana keduanya bisa saja diperburuk dengan gempa dan tsunami.

Beberapa hari ke depan akan menjadi periode penantian yang menegangkan, untuk melihat apakah erupsi akan makin parah atau malah berhenti.

Adriano telah hidup semenjak letusan yang sebelumnya, Gunung Pinatubo pada 1991. Ia mengingat bagaimana kerusakan yang ditimbulkan waktu itu – bagaimana lahar menelan sebuah desa.

Bahkan saya sendiri masih mengingat ketika saya membersihkan kaca jendela mobil saya dari abu, padahal saya berada di Kota Kinabalu, yang 1.120 kilometer jauhnya.

Adriano membersihkan debu vulkanik dari mobilnya

Adriano masih trauma dengan pengalamannya pada letusan Pinatubo. "Meski hujan abu sudah berkurang, tetapi saya masih merasa ini kurang aman. Saya tidak mengizinkan anak-anak saya pergi ke sekolah."

Namun, kebanyakan mereka yang mengungsi sudah sangat ingin kembali ke rumahnya.

Adriano bersimpati. Tentu saja mereka juga tidak bisa menunggu lebih lama lagi di pengungsian, dan tidak banyak yang bisa dilakukan pihak berwenang untuk mencegah mereka pergi.

"Saya paham karena yang mereka inginkan adalah pulang ke rumah dan menyelamatkan ternaknya, karena itulah mata pencaharian mereka. Kalau saya ada di posisi mereka, saya juga akan melakukan hal yang sama, menyelamatkan ternak sebanyak-banyaknya."

Adriano bersama istri dan putranya

Namun, di tengah kekacuan itu semua, ada sebuah struktur lokal yang merepresentasikan ketangguhan wilayah, orang-orang, serta tentunya Filipina secara keseluruhan.

Dibangun pada 1575, Bassilica Santo Martin dari Tours (atau lebih sederhananya, Basilica Taal) adalah gereja terbesar di Filipina dan Asia, terbentang sepanjang 88,6 meter dan selebar 48 meter.

Awalnya, gereja tersebut dibangun di dekat pesisir danau Taal, lalu hancur pada 1754 oleh letusan Gunung Berapa Taal yang terbesar yang pernah tercatat.

Lalu gereja tersebut dibangun kembali, dengan lokasi yang lebih jauh, terletak di atas sebuah bukit yang menghadap Teluk Balayan, namun sempat rusak karena gempa bumi pada 1852 dan 1942. Gereja tersebut lalu direstorasi kembali pada 1953 serta 1972.

Semoga saja gereja tersebut bertahan dari bencana yang terbaru ini.

Namun semua yakin bahwa segala kerusakan dapat diperbaiki, dan hidup akan berlanjut di Taal dan sekitarnya.***


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT