Siswi SMP Tewas Diduga karena Dirisak, Keluarga Bungkam
TEMPO.CO | 19/01/2020 17:03
Suasana rumah SN, 14 tahun, di kawasan Sukmajaya, Depok, Jumat 17 Januari 2020. SN merupakan siswi SMPN 147 yang tewas dengan cara lompat dari gedung lantai 3 sekolah tersebut. TEMPO/ADE RIDWAN
Suasana rumah SN, 14 tahun, di kawasan Sukmajaya, Depok, Jumat 17 Januari 2020. SN merupakan siswi SMPN 147 yang tewas dengan cara lompat dari gedung lantai 3 sekolah tersebut. TEMPO/ADE RIDWAN

TEMPO.CO, Jakarta -Warga sekitar komplek perumahan di kawasan Sukmajaya, dikagetkan dengan kabar tewasnya SN, 14 tahun, siswi SMPN 147 Jakarta secara tiba-tiba. Ketua RT setempat, Alex mengatakan, keluarga SN mengabarkan kalau anak tersebut meninggal dengan kondisi luka patah tulang pada bagian kaki karena terjatuh.

"Informasi terjatuh dari lantai empat, patah kaki," kata Alex ditemui Tempo, Jumat 17 Januari 2020. Alex mengatakan, SN sempat dibawa ke RS Polri namun nyawanya tak terselamatkan.

"Soal dugaan itu (bunuh diri) nggak tahu, saya tidak tanya sampai dalam sih," kata Alex.

Alex pun mengatakan, tidak terlalu mengenal anak tersebut bahkan belum pernah melihat fisik anak, karena tak pernah tinggal di komplek perumahan itu. "Yang tinggal disini hanya bapaknya, kalau yang bersangkutan (SN) tinggal sama neneknya di Pondok Rangon," kata Alex.

Ayah SN, kata Alex, baru tinggal di komplek itu selama tiga tahun ke belakang. "Ayahnya mengontrak disini," kata Alex.

Sementara itu, saat hendak diliput, keluarga SN menolak untuk memberikan keterangan. "Kami nggak mau diliput ya, jangan cari narasumber lain dan foto," kata salah seorang keluarga SN saat ditemui Tempo.

Sebelumnya diberitakan Kepolisian Resor Jakarta Timur masih memeriksa beberapa saksi ihwal dugaan kasus bunuh diri yang dialami oleh siswi SMP Negeri di Ciracas, Jakarta Timur. Pemeriksaan untuk mengetahui alasan pasti siswi berinisial SN itu nekat mengakhiri hidupnya.

"Senin ya nanti saya sampaikan, sekarang saya masih memeriksa para saksi," ujar Kasat Reskrim Polres Jakarta Timur Ajun Komisaris Besar Hery Purnomo saat dihubungi Tempo, Minggu, 19 Januari 2020.

CATATAN: Bantuan krisis kejiwaan atau tindak pencegahan bunuh diri di Indonesia, bisa menghubungi: Yayasan Pulih (021) 78842580.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT