Iran-AS Panas, Maskapai Waspadai Lonjakan Harga Avtur
TEMPO.CO | 13/01/2020 06:55
Petugas melakukan pengisian avtur ke sebuah pesawat udara di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, 26 Januari 2016. Pertamina menyatakan stok avtur untuk melayani kebutuhan penerbangan di Indonesia sangat aman dengan rata-rata stok ketahanan berada d
Petugas melakukan pengisian avtur ke sebuah pesawat udara di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, 26 Januari 2016. Pertamina menyatakan stok avtur untuk melayani kebutuhan penerbangan di Indonesia sangat aman dengan rata-rata stok ketahanan berada diatas 24 hari. ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

TEMPO.CO, Jakarta - Maskapai penerbangan nasional, Citilink Indonesia dan Lion Air menyatakan terus memantau perkembangan konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Maskapai berkepentingan terhadap konflik kedua negara karena berkaitan dengan kenaikan  harga avtur (bahan bakar pesawat).

Saat ini Citilink Indonesia telah mempersiapkan langkah antisipasi kenaikan harga avtur pasca konflik di Timur Tengah yang semakin memanas.

VP Corporate Secretary Citilink Indonesia, Resty Kusandarin, mengatakan saat inipun sudah terjadi kenaikan harga avtur. Kendati demikian, kenaikan yang terjadi belum terlalu signifikan.

“Antisipasi dari maskapai terhadap kemungkinan terjadinya kenaikan avtur adalah melakukan efisiensi bahan bakar dengan menerapkan capacity adjustment,” kata Resty kepada Bisnis, Ahad 12 Januari 2020.

Adapun upaya lain yang mungkin dilakukan adalah dengan mengkaji kembali seluruh rute penerbangan. Evaluasi ini terutama dilakukan untuk rute penerbangan yang memiliki tingkat keterisian kursi (seat load factor/SLF) di bawah 50 persen.

Citilink mengakui belum menerapkan sistem lindung nilai (hedging) pada pembelian avtur. Padahal jika menerapkan sistem tersebut, harga  avtur biasanya sudah disepakati sejak awal tahun.

Berdasarkan data Paparan Publik PT Garuda Indonesia Tbk. sepanjang Kuartal III/2019, Citilink berhasil mengurangi konsumsi bahan bakar hingga 14,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/y-o-y). Tepatnya, pada Kuartal III/2019 sebesar 100,2 juta liter dibandingkan dengan 117,2 juta liter pada Kuartal III/2018.

Penurunan konsumsi bahan bakar tersebut juga diikuti dengan penurunan available seat kilometers (ASK) sebanyak 11,8 persen dari 3,7 miliar ASK menjadi 3,3 miliar ASK. ASK merupakan satuan ukuran kapasitas penumpang pesawat yang merupakan hasil perkalian antara jumlah total kursi pada seluruh penerbangan yang terjadi dengan jarak penerbangan dalam satuan kilometer.

Sementara itu, Corporate Communications Strategic Lion Air Group Danang M. Prihantoro mengaku belum bisa membeberkan langkah antisipasi maskapai terkait dengan kemungkinan kenaikan harga avtur terkait konflik Iran-AS. “Kami belum bisa menyampaikan statement terkait dengan harga avtur. Namun, kami terus mencermati perkembangan kondisi tersebut,” kata Danang.

BISNIS


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT