Saran Indef untuk Antisipasi Dampak Ketegangan Iran dengan AS
TEMPO.CO | 08/01/2020 04:09
Saran Indef untuk Antisipasi Dampak Ketegangan Iran dengan AS
Saran Indef untuk Antisipasi Dampak Ketegangan Iran dengan AS

TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rusli Abdullah menilai Indonesia harus bersiap mengantisipasi ketegangan antara Amerika Serikat dengan Iran karena dapat menambah beban laju pertumbuhan ekonomi nasional.

"Tentu ketidakpastian global itu mempengaruhi ekonomi kita. Investor yang tadinya ingin melakukan ekspansi bisnis ke dalam negeri menjadi 'wait and see'. Indonesia harus bersiap menerima ketidakpastian baru," ujar Rusli seperti dikutip Antara, Selasa, 7 Januari 2020.

Menurut dia, konflik AS-Iran dapat menjadi perang terbuka di kawasan Timur Tengah yang akhirnya mendorong harga komoditas, terutama minyak dunia melonjak.

Harga minyak yang melonjak, lanjut dia, dapat menjadi tantangan di tengah usaha pemerintah untuk memperkecil defisit pada neraca perdagangan dan transaksi berjalan.

Tercatat, harga minyak mentah berjangka jenis Brent di angka US$ 68,44 per barel. Sedangkan harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate sebesar US$ 62,89 per barel.

Sementara itu dalam APBN 2020, harga minyak mentah Indonesia (ICP) diasumsikan sebesar US$ 63 per barel.

"Harga minyak saat ini relatif masih kondusif, namun jika konflik berlarut-larut diperkirakan dapat mencapai 70-80 dolar AS per barel dikhawatirkan dapat membebani APBN," kata Rusli.

Ia mengatakan efek domino dari meningkatnya harga minyak yakni kenaikan inflasi 2020 dibandingkan tahun sebelumnya.

"Setelah kenaikan minyak, imbasnya akan mempengaruhi harga BBM di dalam negeri yang akhirnya berdampak pada biaya logistik dan transportasi, kemudian berdampak juga pada harga bahan pokok. Pada akhirnya, dapat mendorong inflasi," katanya.

Dalam rangka menjaga pertumbuhan ekonomi nasional, Rusli menyarankan agar bauran kebijakan pemerintah untuk dikaji kembali. Pemerintah harus fokus tetap menjaga daya beli masyarakat untuk tetap baik.

"Kemudian lebih mempermudah investasi masuk, bagaimanapun pasar Indonesia besar," katanya.

Secara terpisah, Pendiri LBP Institute, Lucky Bayu Purnomo menambahkan pemerintah disarankan untuk melakukan restrukturisasi utang, karena mayoritas utang Indonesia dalam bentuk dolar AS.

"Jika harga minyak naik maka potensi dolar AS menguat juga terbuka karena sifat transaksi minyak yang menggunakan dolar AS," katanya.

ANTARA


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT