Banyak Sentimen Positif, IHSG Pekan Depan Diprediksi Menguat
TEMPO.CO | 05/01/2020 15:50
Jurnalis melakukan sesi wawancara di dekat refleksi layar pergerakan IHSG, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. Pasca libur Lebaran, perdagangan IHSG dibuka menguat 90,91 poin atau 1,4 persen ke 6.300,036, sementara pada sore harinya IHSG d
Jurnalis melakukan sesi wawancara di dekat refleksi layar pergerakan IHSG, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. Pasca libur Lebaran, perdagangan IHSG dibuka menguat 90,91 poin atau 1,4 persen ke 6.300,036, sementara pada sore harinya IHSG diutup di level 6.289,61. ANTARA/Sigid Kurniawan

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sepekan ke depan berpeluang menguat. IHSG diprediksi akan support di level 6.263 hingga 6.219 dan resisten di kisaran 6.337 sampai 6.348.

"Pelaku pasar kami rekomendasikan melakukan SOS atau jual ketika menguat, mengantisipasi koreksi akibat kenaikan yang sudah cukup tinggi," ujar Hans dalam pesan singkat Ahad, 5 Januari 2020.

Beberapa sentimen yang diperhitungkan pekan depan adalah adanya optimisme pasar setelah penandatanganan kesepakatan fase I antara Cina dan Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump mengatakan kesepakatan perdagangan itu akan ditandatangani pada 15 Januari di Gedung Putih.

Tanda-tanda kemajuan dalam kesepakatan itu, tutur Hans, mendorong produksi pabrik dan aktivitas manufaktur di Cina tumbuh untuk dua bulan berturut-turut. "Indeks Dow juga terlihat mengalami break all time high. Biarpun kami melihat penandatangan hanya sebuah eforia sesaat karena itu kami merekomendasikan pelaku pasar SOS."

 Kendati demikian, panasnya tensi di Timur Tengah juga akan menjadi perhatian pasar pekan depan. Naiknya harga minyak di akhir pekan ini akibat serangan udara AS ke milisi Irak yang di dukung oleh pemerintah Iran. Serangan udara AS dikabarkan menewaskan Mayor Jenderal Iran Qassem Soleimani, kepala Pasukan elit Quds, dan komandan milisi Irak Abu Mahdi al-Muhandis.

Isu lain yang diperhatikan adalah masalah Brexit atau keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan Uni Eropa mungkin perlu memperpanjang batas waktu untuk pembicaraan tentang hubungan perdagangan baru dengan Inggris. Hans melihat pelaku pasar memantau kemampuan Inggris untuk mencapai kesepakatan perdagangan baru dengan Uni Eropa dalam rentang waktu yang relatif singkat.

 

Dari domestik, angka inflasi yang dirilis pada awal tahun 2020 menunjukan inflasi Desember 2019 hanya 0,34 persen. Selain itu inflasi tahun ke tahun hanya 2,72 persen, di bawah inflasi tahun 2017 yang sebesar 3,61 persen dan tahun 2018 yang seesarb 3,13 persen. "Rendahnya angka inflasi di satu sisi memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk melanjutkan penurunan suku bunga apalagi bila angka pertumbuhan terus mengecewakan," tutur Hans.

Berbeda dengan Hans, Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih menilai IHSG bisa saja terkoreksi temporer paling buruk ke angka 6.250. Hal tersebut sangat bergantung kepada ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. 

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT