Myanmar dalam Games of Thrones, Kekalahan Warga Rohingya
TEMPO.CO | 16/12/2019 07:30
Penasihat Negara Myanmar Aung San Suu Kyi pada Pengadilan Internasional (ICJ)
Penasihat Negara Myanmar Aung San Suu Kyi pada Pengadilan Internasional (ICJ)

Apakah dia Cersei Lannister – yang dingin, sinis, dan mematikan? Atau Sansa Stark – yang agung, tabah dalam penderitaan panjangnya namun ikhlas?

Aung San Suu Kyi dari Myanmar – putri sang jenderal, yang memimpin sebuah negeri yang sangat rentan telah berubah dari musuh bebuyutan Tatmadaw (dari pihak militer) menjadi pembela mereka, atau bahkan lebih buruk lagi, menjadi pendukung mereka.

Seiring dengan dimulainya proses di Mahkamah Internasional (ICJ) dimana negerinya lagi-lagi di bawah perhatian dunia, banyak orang mempertanyakan bagaimana wanita yang dahulu sangat dipuja itu berbalik menjadi banyak dicerca?

Penasehat Negara tersebut telah membiarkan kekuatan paling gelap di negerinya untuk melampiaskan kekerasan atas kaum minoritas muslim Rohingya yang lama ditekan – dimana dia bahkan menolak untuk mengakui keberadaannya.

Posisi Negara Bagian Rakhine dan Myanmar

Lebih dari 730.000 warga Rohingya diyakini telah mengungsi ke Bangladesh sejak kekerasan terakhir terhadap mereka pecah di negara bagian Rakhine pada Agustus 2017. Untuk itulah Suu Kyi sedang berada di Den Haag, dengan tujuan membela pemerintahnya terhadap tuduhan genosida.

Hal ini nyaris tidak berdampak apapun.

Sebuah penyelidikan terhadap pembunuhan keji terhadap 10 pria Rohingya dan penguburan massal bahkan menyebabkan dua reporter Reuters Wa Lone dan Kyaw Soe Oo dari Desember 2017 sampai Mei 2019 (di bawah pengawasan Suu Kyi). Namun demikian, kedua reporter tersebut akhirnya memenangkan penghargaan Pulitzer untuk laporan mereka.

Sepuluh pria Rohingya beragama Muslim yang dibunuh di desa Inn DInn, Myanmar pada September 2017.

Namun, tetap saja, kesamaan antara Cersei, sang Lioness of the Rock, dan Suu Kyi sulit dibantah. Keduanya sama-sama tabah, sulit ditembus, dan berhasil di sebuah bidang yang didominasi laki-laki. Saat memegang tampuk kekuasaan, mereka rela melakukan apapun untuk mempertahankannya.

Tidak seperti Cersei, Suu Kyi tetaplah seorang sosok populer di antara rakyatnya sendiri, hal ini terlihat dari aksi unjuk rasa yang diadakan untuk mendukungnya dalam persiapan ke pengadilan di ICJ.

Sebagaimana dikatakan seorang pemilik warung teh di kota Botahtung kepada Tim Ceritalah: "Saya mendukung Aung San Suu Kyi. Dia adalah pemimpin yang baik dan bekerja keras untuk negara. Dia mengambil tanggung jawab sebagai seorang pemimpin dengan menghadapi pengadilan ICJ."

Gerakan massa diadakan di Taman Mahabandulan di Yangon, Myanmar, sebagai bentuk dukungan pada Aung San Suu Kyi.

Tentu saja tidak mungkin ICJ – sekalipun melawan Myanmar – akan dapat menghentikan kekerasan terhadap warga Rohingya.

Satu hal, tidak ada yang dapat menerapkan peraturannya. Di sisi lain, akar kebudayaan masyarakat Budha dan Muslim telah membelah Myanmar secara mendalam.

Jadi, bagaimana hal ini bisa terjadi?

Thant-Myint U, seorang penulis dan ahli sejarah, mencoba menjelaskannya di dalam buku terakhirnya, "The Hidden History of Burma."

Thant-Myint U, cucu dari mantan Sekretaris Jenderal Perserikatan Banga Bangsa, U-Thant, dan pengarang buku “THe Hidden History of Burma.”

Bagi Thant, sejarah etnis Myanmar yang rumit berawal dari masa kolonial. Ketegangan di antara warga Muslim dan Budha telah lama terjadi, pemerintah Inggris memaksakan hirarki rasial yang menurunkan posisi warga Burma menjadi sekedar penonton pasif sementara jutaan migran dari India dan China membanjiri negeri yang kemudian mengalami ekonomi yang meledak – didorong oleh ekspor kayu tik, minyak, dan batu rubi.

Pemerintahan-pemerintahan berikutnya sejak kemerdekaan juga gagal untuk menyembuhkan perpecahan bangsa tersebut.

Thant, sayangnya walau tidak mengejutkan, juga tidak memiliki solusi atas politik identitas yang telah memecah-belah tanah airnya.

Satu-satunya resep kebijakan yang bisa ia ditawarkan adalah perlunya membicarakan anomali kapitalisme (yang menyebabkan ketidaksetaraan) dan prospek perubahan iklim yang tidak jelas, karena inilah yang menjadi tantangan bagi Myanmar.

Jujur saja, pada hakikatnya tidak ada yang salah dengan hal ini, dan Thant dengan cerdas menonjolkan sisi lingkungan – yang seringkali hilang dalam proses pembuatan kebijakan di Asia Tenggara.

Namun demikian, saat berhadapan dengan kisah-kisah yang memilukan mengenai pembunuhan, pemerkosaan, penculikan, dan kelaparan warga Rohingya, hanya satu pertanyaan yang penting.

Apakah mereka pasti bisa kembali ke Negara Bagian Rohingya?

Tim Ceritalah kembali mengunjungi Sadek Ali Hasan, seorang pengungsi Rohingya dan guru sekolah yang menetap di Malaysia selama 14 tahun terakhir.

Sadek Ali Hasan, pengungsi Rohingya dan guru sekolah yang telah tinggal di Malaysia untuk 14 tahun terakhir.

Dia sangat ingin pulang ke rumahnya. "Saya memiliki 18 hektar tanah garapan. Jika hak, kepemilikan dan kekayaan saya dipulihkan, tentu saja saya akan pulang! Jika ada kedamaian dan stabilitas, buat apa saya menetap di sini [di Malaysia]?"

Di sinilah saya merasa kegagalan Suu Kyi menjadi gamblang.

Tak seorangpun membantah kesulitan yang dia atau negaranya hadapi. Tapi seharusnya dia menggunakan kekuatan moral yang sudah dinikmatinya untuk mendorong terobosan dalam menghadapi perpecahan etnis Myanmar – apapun taruhannya baik secara politis ataupun pribadi.

Sebagaimana apa adanya – dia telah membuktikan bahwa dia pun tidak berbeda dari politisi oportunis lain. Sang Wanita itu pun memiliki kesalahan.

Ya, ekonomi dan lingkungan memang penting tapi bukan itu saja isunya.

Seluruh bangsa memiliki musuhnya masing-masing. Tantangan untuk pemimpinnya adalah untuk melenyapkan musuh tersebut; terutama jika pendukung mereka sendiri adalah orang-orang yang dapat dengan begitu mudah digoyahkan oleh propaganda semacam itu.

Kepemimpinan yang sesungguhnya adalah kemampuan mengendalikan aspek primordial yang tiba-tiba muncul dalam jiwa nasionalis kita.

Suu Kyi gagal dalam hal ini.

Bencana yang melanda Jerman pada tahun 1930-an dan negara eks-Yugoslavia pada tahun 1990-an menggambarkan harga yang bakal dibayar Myanmar.

Suu Kyi telah menguasai gelombang global dari paham nasionalisme etnis.

Tapi, apa taruhannya bagi Myanmar dan wilayah tersebut?

Jadi, dalam sebuah Games of Thrones di Myanmar, apakah Suu Kyi menjadi Cersei atau Sansa?

Bisa jadi – walaupun kita sangat berharap tidak begitu – Suu Kyi hanyalah Daenerys Targaryen, Khaleesi yang dicintai semua orang – tapi sayangnya berakhir dengan membakar negerinya sendiri.

Hanya waktu yang akan bicara – tapi Rohingya dan tentunya, Myanmar, kehabisan waktu.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT