CekFakta #24 Disinformasi dan Moderasi Platform Media Sosial
TEMPO.CO | 14/12/2019 15:41
Ilustrasi Media Sosial (Medsos).
Ilustrasi Media Sosial (Medsos).
  • Selama ini, platform-platform mainstream seperti Facebook dan YouTube dianggap sebagai aktor utama dalam penyebaran disinformasi. Padahal, menurut sebuah studi yang diterbitkan baru-baru ini, forum-forum diskusi adalah lahan pertama pembentukan disinformasi.
  • Masih seputar deepfake, kita mungkin bisa sedikit bernapas lega dengan adanya beberapa penelitian untuk menemukan alat pendeteksi konten manipulasi yang diciptakan dengan kecerdasan buatan itu. Salah satunya, dengan tikus. Binatang, terutama tikus, dipercaya mahir mendeteksi suara palsu.

Halo pembaca nawala CekFakta Tempo. Awal Agustus kemarin, kita dikagetkan dengan peristiwa penembakan El Paso, penembakan massal di sebuah toserba Walmart di El Paso, Texas, Amerika Serikat. Pelaku penembakan itu diduga menuliskan sebuah manifesto di sebuah forum diskusi sekitar satu setengah jam sebelum kejadian. Forum-forum diskusi seperti 8chan, Reddit, dan Gab memang menjadi salah satu lumbung disinformasi. Penyebabnya, mereka minim, bahkan sama sekali tidak, memberlakukan moderasi. Sebenarnya, apa pentingnya moderasi?

Apakah Anda menerima nawala edisi 16 Agustus 2019 ini dari teman, dan bukan dari email Tempo? Daftarkan surel di sini untuk berlangganan.

Edisi ini ditulis oleh Angelina Anjar Sawitri, anggota tim Tempo Medialab.

DISINFORMASI DAN MODERASI PLATFORM MEDIA SOSIAL

Patrick Crusius menjadi tersangka penembakan massal di Walmart, El Paso, Texas, pada Sabtu, 3 Agustus 2019. Dailysunpost

Masih ingatkah Anda dengan penembakan massal El Paso yang terjadi pada Sabtu, 3 Agustus lalu? Ada satu hal dari peristiwa yang menewaskan sebanyak 22 orang itu yang menarik perhatian kita semua. Sekitar satu setengah jam sebelum peristiwa itu, muncul sebuah manifesto di forum diskusi online bernama 8chan. Diduga, manifesto itu ditulis oleh sang pelaku penembakan, Patrick Crusius.

Dalam manifesto tersebut, sang pengunggah yang menggunakan nama P._Crusius mengungkapkan kebenciannya terhadap gelombang imigrasi Latin di Texas. Dia juga memuji pelaku penembakan massal di Masjid Al Noor dan Masjid Linwood di Christchurch, Selandia Baru, pada Maret lalu. Tak ketinggalan, dia menuliskan sebuah kronologi yang mirip dengan kronologi penembakan El Paso.

Lalu, apa hubungannya peristiwa penembakan ini dengan moderasi konten di internet? Sebelum membahas soal itu, alangkah baiknya kita mengenal terlebih dahulu forum diskusi 8chan yang diduga digunakan oleh pelaku penembakan El Paso untuk menyebarkan disinformasi.

8chan merupakan sebuah forum diskusi yang diciptakan oleh seorang programmer berkebangsaan Amerika Serikat yang tinggal di Filiphina bernama Fredrick Brennan pada 2013. Saat itu, Brennan membuat 8chan untuk mengakomodir kebebasan berbicara yang tidak ia temukan dalam forum diskusi yang telah ada. Dia memimpikan sebuah situs di mana segala bentuk diskusi diizinkan, tidak peduli seberapa “beracunnya” diskusi itu. Untuk mendukung tujuan itu, 8chan juga mengedepankan anonimitas.

Singkat cerita, sejak 2015, 8chan berpindah tangan ke Jim Watkins, seorang veteran Angkatan Darat Amerika Serikat, yang juga merupakan tetangga Brennan di Filiphina. Watkins punya kesamaan visi dengan Brennan. Karena itu, walaupun terjadi peralihan kepemilikan, 8chan tetap menjadi sebuah situs yang hampir sepenuhnya tidak dimoderasi.

Inilah problemnya. Karena minim, atau bahkan bisa dibilang tidak ada, moderasi, 8chan menjadi tempat nongkrong favorit bagi para ekstremis. Mereka kerap berbagi cerita tentang tindakan kekerasan. Mereka pun mendukung para pelaku pembunuhan massal. Bahkan, mereka menjadikan jumlah korban yang terbunuh sebagai skor, ibarat sebuah permainan. Setelah penembakan El Paso, muncul sebuah meme yang mendorong orang lain untuk mencoba “mengalahkan” skor tertinggi yang masih dipegang oleh pelaku penembakan Christchurch, yakni sekitar 50 orang.

Di dunia ini, 8chan pun tidak sendirian. Menurut penelitian Global Disinformation Index, forum-forum diskusi lainnya, seperti 4chan, Reddit, dan Gab, juga menjadi bagian dari ekosistem yang melanggengkan pembentukan disinformasi. Bahkan, media-media sosial nonmainstream, seperti Pinterest, platform pembayaran, seperti Paypal, dan situs jual-beli, seperti Amazon, pun turut andil dalam penyebaran kampanye permusuhan.

Penelitian itu juga menemukan bahwa, biasanya, disinformasi dan kampanye permusuhan muncul pertama kali di forum-forum diskusi semacam itu. Barulah kemudian, di tahap kedua, berbagai konten “gelap” tersebut diunggah ke platform yang lebih terbuka, seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan YouTube. Pada akhirnya, konten-konten itu muncul di outlet-outlet berita.

Lalu, adakah jalan keluar dari permasalahan ini? Pasca penembakan El Paso, 8chan tidak lagi aktif. Perusahaan penyedia layanan situs yang sebelumnya berada di belakang 8chan ramai-ramai mengundurkan diri agar situs itu tidak bisa online. Walaupun terdapat kemungkinan 8chan berpindah ke platform lain, beberapa ahli berpendapat bahwa “pengucilan” atau deplatforming terhadap 8chan dapat membatasi penyebaran ideologi para ekstremis di sana.

Bagaimana dengan platform-platform lainnya? New York University Stern Center for Businesses and Human Right menyarankan agar moderasi dari platform media sosial diperkuat dengan keterlibatan pemerintah yang terbatas. Artinya, platform media sosial harus bisa mengatur konten yang muncul di laman mereka. Di sisi lain, seperti yang dilakukan oleh Jerman, platform media sosial wajib membayar denda hingga US$ 60 juta jika ujaran kebencian yang muncul di laman mereka tidak dihapus dalam waktu 1x24 jam. 

Di Indonesia, rencana itu sudah mulai diinisiasi oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara. Untuk menekan peredaran disinformasi dan misinformasi, pemerintah akan menjatuhkan denda terhadap platform yang dinilai membiarkan penyebaran hoaks. Namun, pemberlakuan sanksi itu masih menunggu selesainya revisi Peraturan Pemerintah tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik.

Sebenarnya, hal terpenting untuk menangkal disinformasi dan misinformasi adalah meningkatkan literasi diri kita sendiri. Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia turut andil dalam memicu maraknya penyebaran hoaks. Karena itu, kita harus bisa menahan diri untuk tidak menyebarkan hoaks dalam bentuk apapun. Jangan lupa untuk tetap skeptis terhadap setiap informasi yang menerpa. Moderasi harus dimulai dari diri kita sendiri.

TIKUS PENDETEKSI DEEPFAKE

Belakangan ini, video deepfake, konten manipulasi yang diciptakan dari nol dengan kecerdasan buatan, semakin menjelma sebagai hantu yang menakutkan. Namun, kekhawatiran itu mungkin bisa segera terobati. Belakangan ini, sekelompok peneliti menemukan sebuah alat baru untuk memerangi misinformasi yang dihasilkan oleh video deepfake: tikus.

- Sekelompok peneliti dari University of Oregon, Amerika Serikat, tengah mempelajari cara tikus mendeteksi “keanehan” dalam sebuah pembicaraan. Menurut mereka, pendeteksian suara palsu atau fake audio bisa dilakukan oleh binatang, terutama tikus, dengan akurasi yang luar biasa.

- Para peneliti itu terlebih dahulu melatih tikus untuk mengidentifikasi serangkaian fonem, misalnya “buh” dengan “guh”, dalam konteks yang berbeda dan dikelilingi oleh vokal yang berbeda pula. Hal ini dimaksudkan untuk memastikan mereka dapat mengidentifikasi suara dari setiap kata yang berbeda secara konsisten.

- Setelah dilatih, tikus ditempatkan dalam sebuah percobaan di mana mereka diberi hadiah jika bisa mengidentifikasi sebuah fenom dengan benar. Tingkat keberhasilan percobaan ini mencapai 80 persen.

- Nantinya, alat deteksi deepfake dapat dikembangkan dengan menerjemahkan proses neurologis yang ditemukan pada tikus ke dalam sistem komputasi.

Metode lain untuk mendeteksi deepfake:

- Hany Farid, seorang ahli forensik digital asal Amerika Serikat, sedang membangun biometrik lunak untuk membedakan seseorang dengan versi palsu mereka. Mereka menggunakan alat tersebut untuk menggali karakter para tokoh dalam video selama berjam-jam, mulai dari gerakan kepala, pola bicara, dan ekspresi wajah.

- Adobe, penyedia perangkat lunak penyuntingan foto, bekerjasama dengan University of California, Amerika Serikat, mengembangkan sebuah alat untuk mendeteksi foto palsu dengan memanfaatkan convolutional neural network (CNN), jenis jaringan saraf yang biasa digunakan pada data gambar. CNN bisa mengidentifikasi bagian wajah mana yang dipoles dan metode apa yang digunakan.

WAKTUNYA TRIVIA! 

Informasi-informasi sekilas yang mungkin terselip dari perhatian. Kami mengumpulkannya untuk Anda.

- Checkpoint, sebuah perusahaan keamanan siber, mendemonstrasikan sebuah alat yang dapat memanipulasi fitur quote atau kutipan di WhatsApp. Alat itu bisa membuat seseorang terlihat mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka katakan. Penemuan alat ini menunjukkan bahwa WhatsApp memiliki kelemahan yang cukup berbahaya yang dapat memicu terjadinya misinformasi.

- Keamanan privasi Instagram yang longgar memungkinkan mitranya menyimpan unggahan pengguna dan melacak lokasi mereka. Hal itulah yang dilakukan oleh sebuah firma pemasaran Amerika Serikat, Hyp3r. Mereka mengambil jutaan unggahan pengguna untuk membangun basis data pemasaran. Saat ini, Instagram telah menghentikan kerjasama mereka dengan Hyp3r. Instagram pun telah melakukan perubahan sistem yang mencegah mitranya mengambil lokasi pengguna. Sayangnya, upaya-upaya itu dilakukan oleh Instagram setelah wartawan memaparkan temuan-temuan itu kepada mereka.

- Platform CrowdTangle milik Facebook akan berhenti menyuguhkan data dari Twitter di dasbornya mulai akhir September mendatang. Hal ini merupakan sebuah tantangan bagi para pemeriksa fakta. Selama ini, platform tersebut biasa digunakan oleh para pemeriksa fakta untuk melihat jenis dan jangkauan informasi yang salah saat tersebar.

- Microsoft menemukan bahwa kelompok peretas atau hacker dari Rusia yang bernama Fancybear menggunakan printer, alat decoder video, dan perangkat Internet of Things atau IoT lainnya untuk menembus jaringan komputer dan meretas akun serta data. Sebenarnya, perangkat IoT sengaja dirancang untuk terhubung ke internet dengan mudah. Namun, dalam kebanyakan kasus, para teknisi tidak mengetahui keberadaan para peretas itu.

- Artis efek visual, Jonty Pressinger, menunjukkan bagaimana deepfake bisa digunakan untuk hal yang positif. Dalam unggahan video di YouTube, dia menggunakan teknologi itu untuk membuat karakter-karakter dalam film keluaran Disney, "The Lion King", lebih nyata dan ekspresif.

PERIKSA FAKTA SEPEKAN INI 

Pasca mengalami gangguan sistem pada 20 Juli lalu, Bank Mandiri seakan tak pernah berhenti diterpa kabar hoaks. Tepat pada hari di mana sistem Bank Mandiri blackout, banyak informasi yang beredar di media sosial bahwa gangguan itu disebabkan oleh serangan para peretas atau hacker. Belum sampai sebulan setelah berita itu beredar, muncul lagi sebuah pernyataan bahwa Bank Mandiri terancam bangkrut akibat serangan hacker tersebut.

Berdasarkan pemeriksaan fakta yang kami lakukan, gangguan yang dialami Bank Mandiri pada 20 Juli lalu diakibatkan oleh kesalahan yang terjadi saat pemeliharaan sistem reguler. Sementara itu, terkait itu kebangkrutan, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rohan Hafas membantahnya.

Selain artikel tentang Bank Mandiri di atas, kami juga melakukan pemeriksaan fakta atas beberapa hoaks yang beredar. Buka tautan ke kanal CekFakta Tempo.co untuk membaca hasil periksa fakta berikut:

Kenal seseorang yang Anda rasa tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini.

Ikuti kami di media sosial:

Facebook

Twitter

Instagram


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT