Wamen BUMN Sebut Pertamina Kasir Utama Negara
TEMPO.CO | 13/12/2019 06:45
Seorang petugas terlihat sedang melakukan pengecekan drum yang berisi pelumas di Depo Pertamina, Plumpang, Jakarta, (31/12). ANTARA/Prasetyo Utomo
Seorang petugas terlihat sedang melakukan pengecekan drum yang berisi pelumas di Depo Pertamina, Plumpang, Jakarta, (31/12). ANTARA/Prasetyo Utomo

TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) I Budi Gunawan Sadikin mengklaim bahwa PT Pertamina (Persero) merupakan  kasir terbesar atau penyumbang dividen terbesar bagi negara. Ia menjelaskan, earning before interest, tax, depreciation and amortization (EBITDA) milik perusahaan minyak dan gas pelat merah itu menjadi yang terbesar di antara BUMN lain dengan nilai US$9 miliar pada tahun lalu.

"Kalau ditanya dividen, Pertamina menjadi kasir paling besar BUMN karena setorannya besar," ujar Budi Gunadi Sadikin di Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis, 12 Desember 2019.

Budi pun membandingkan EBITDA Pertamina dengan pencapaian PT Freeport Indonesia yang hanya sebesar US$ 4 miliar. Capaian  Pertamina ternyata jauh  lebih besar dari apa yang didapat oleh tambang emas terbesar itu.

Berdasarkan capaian itu, Budi menilai keuangan Pertamina sangat stabil, dan sangat bisa  berinvestasi di beberapa proyek strategis. Misalnya, dengan berinvestasi untuk pembangunan kilang dan industri petrokimia. "Keuangan Pertamina enggak ada masalah," ujarnya.

Budi juga mengungkapkan bahwa sejak April 2019 Pertamina  sudah tak mengimpor solar lagi. Bahkan, mulai Mei pada tahun yang sama, perusahaan pelat merah itu  juga sudah tak mengimpor avtur.

Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, mengatakan pihaknya sudah melakukan penurunan impor solar dan avtur hingga 25 juta barel. "Jika dirupiahkan, itu Rp37 triliun dan untuk ekspor avtur, kita hitung Rp12,7 triliun sepanjang 2019. Jadi kontribusi untuk meringankan Current Account Defisit (CAD) sudah mulai terlihat," ujar Nicke.

Adapun Pertamina telah mencatatkan laba bersih sebesar US$ 660 juta atau Rp 9,4 Triliun pada semester I-2019. Capaian tersebut menunjukkan peningkatan signifikan, yakni sekitar 112 persen jika dibandingkan laba bersih periode sebelumnya yang sebesar US$ 311 juta atau sekitar Rp 4,4 triliun.

EKO WAHYUDI


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT