Marriage Story: tentang Cinta dalam Perkawinan dan Perceraian
TEMPO.CO | 08/12/2019 22:40
Salah satu adegan dalam film Marriage Story. Foto: Marriage Story Instagram
Salah satu adegan dalam film Marriage Story. Foto: Marriage Story Instagram

MARRIAGE STORY

Sutradara                 : Noah Baumbach

Skenario                   : Noah Baumbach

Pemain                      : Scarlett Johansson, Adam Driver, Laura Dern, Alan Alda

Sebuah ledakan besar dari film kecil. Noah Baumbach menunjukkan Marriage Story adalah realita cinta dan kepahitan dalam perkawinan.

                                                      ***

Perceraian bisa dipandang dari berbagai sudut: sebagai sebuah kematian (dari sebuah hubungan); sebagai sebuah bentuk perdamaian (untuk berpisah) atau sebuah peperangan berdarah (bagi para pengacara).

Pasangan Charlie dan Nicole Barber (diperankan Adam Driver dan Scarlett Johansson dengan chemistry yang luar biasa) semula memutuskan untuk “berpisah baik-baik”, seperti halnya cita-cita banyak pasangan yang menyadari kapal rumah tangga mereka sudah karam.

Film yang ditayangkan pada saluran digital Neflix ini dimulai dengan sebuah adegan yang semula mengesankan harmoni, cinta dan keintiman. Suara narasi Nicole menceritakan bagaimana dia jatuh cinta pertama kali pada Charlie; segala kebiasaan kecil yang membuat dia “tampak sempurna” karena Charlie justru rela bangun tengah malam ketika anak mereka Henry ketakutan mimpi buruk; atau Charlie yang lebih rajin membersihkan rumah, mencuci dan menyeterika di antara kesibukannya menjadi sutradara teater Broadway. Lalu narasi voice over Charlie bergantian menceritakan dengan suara penuh kekaguman  betapa Nicole adalah perempuan yang perhatian dan memberikan dirinya sepenuhnya pada Charlie dan putera tunggal mereka, Henry. Betapa Nicole bahkan jauh lebih kuat  daripada dirinya secara fisik sehingga banyak pekerjaan berat yang dibereskan oleh isterinya.

Hanya beberapa menit setelah itu, barulah kita menyadari  pasangan ini tengah berada di hadapan psikolog yang sedang melakukan mediasi. Sang mediator tengah meminta mereka menulis hal-hal yang positif tentang pasangannya yang membuat mereka dulu saling jatuh cinta.

Selanjutnya, segala yang manis segera menjadi masam dan bahkan pahit karena proses perceraian adalah bagian tersulit dari sebuah pasangan.  Meski Charlie dan Nicole sama-sama sepakat untuk tidak menggunakan pengacara, tetapi  sebagaimana orang Amerika umumnya mereka akhirnya menggunakan pengacara yang sama-sama militan dan agresif.

Sutradara Noah Baumbach seolah bercerita tentang ‘kisah sederhana’ yang dikuliti dengan teliti, rinci, lantang dan brutal. Betapa dua orang yang saling mencintai begitu hebat juga pada akhirnya bisa saling membenci dan berperang dengan begitu hebat. Betapa kata-kata penuh cinta dan keintiman bisa berubah menjadi kalimat penuh racun dan bisa yang mematikan jiwa.

Scarlett Johansson yang sudah lama berenang-renang di kubang jagat Marvel kali ini kembali menggali kedalaman seni perannya yang sudah pernah terlihat dari film-film seperti “Lost in Translation” (Sofia Copolla, 203), “Match Point” (Woody Allen, 2005) dan “Vicky Cristina Barcelona” (Woody Allen, 2008) .

Kali ini, Scarlett  Johansson membawa seni peran ke level yang jauh lebih tinggi lagi di mana rasa frustrasinya sebagai seorang isteri dari lelaki yang asyik dengan dirinya sendiri dan sama sekali tak memperhitungkan keinginan isteri . Segala perasaan yang terpendam itu tak hanya tergambarkan dari dialog mereka yang memang cerdas dan pas. Tetapi lebih lagi kita bisa melihat betapa sorot mata kemarahan yang tak terbendungkan itu memperlihatkan jam terbang Scarlett. Tak mudah memerankan seorang isteri yang begitu marah sekaligus sangat mencintai suaminya sehingga gerak gerik pasangan yang dalam proses perceraian itu membingungkan. Pada dasarnya pasangan yang bercerai selalu bingung dengan langkah-langkah yang harus dilakukan. Pengacara –karena ingin menang

Adam Driver adalah bintang yang tengah melejit seperti meteor. Dia membuktikan kemampuannya bukan hanya dalam film-film besar seperti serial ”Star Wars”, tetapi di dalam drama ‘kecil’ ini. Saksikan adegan perseteruan mulut yang panjang dan tak berkesudahan di babak tiga—Driver memperlihatkan betapa dia bisa mengimbangi Johansson. Saksikan pula pada adegan Charlie dan Henry yang menemukan catatan Nicole tentang Charlie –sebuah catatan yang kita sudah dengar pada pembukaan film—dan bagaimana wajah Charlie berubah dari raut yang keras. Perlahan garis  rahang menghilang dari wajahnya, tenggelam ke dalam tangis yang tertahan dan tak bersuara.

Film ini tentu saja bukan sebuah cerita yang otentik karena tahun 1979, kita diguncang oleh kedahsyatan film “Kramer vs Kramer” karya Robert Benton yang menampilkan Merryl Streep dan Dustin Hoffman. Pasangan yang juga sebetulnya masih saling mencintai tetapi sang suami terlalu asyik dengan diri sendiri dan akhirnya saling berebut perwalian anak di pengadilan. Persamaan dalam film-film drama keluarga yang fokus pada kegilaan proses perceraian adalah: anak adalah korban terbesar dari segala keputusan itu, apakah keputusan itu dianggap sebagai ‘perdamaian’ maupun ‘perang’.

Sutradara Noam Baumbach yang meletakkan segala jiwa raga ke dalam film ini—konon ini cerita ini mengandung kisah personal perceraian dirinya dengan aktris Jennifer Jason Leigh—kini sudah dibayang-bayangi kehebohan film ini atau para pemainnya yang bakal dinominasi dalam ajang penghargaan film tahun depan.

Film  Marriage Story memiliki elemen yang begitu dekat kepada diri kita, di manapun kita berada, apakah AS atau Indonesia , yang kemudian mengguncang sekaligus menyadarkan kita betapa cinta dan kepahitan saling bersandar dan berpelukan dan memiliki konsekuensi yang luar biasa. Sutradara Noah Baumbach membuktikannya dengan film ini: kita seperti menyaksikan luka diri yang berdarah-darah, seperti halnya lengan Charlie yang tertoreh pisau dan merembes darah kemana-mana, bagaimanapun dia mencoba menutupinya.

Marriage Story adalah sebuah ledakan besar dari sebuah film ‘kecil’ yang tahun depan pasti akan diganjar puluhan penghargaan.

Leila S.Chudori

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT