Museum HAM Munir Mulai Dibangun
TEMPO.CO | 08/12/2019 16:42
Seorang anak melihat-lihat koleksi peninggalan aktivis HAM Munir, di Omah Munir, Batu, Jawa Timur, Ahad, 7 September 2014. Omah Munir merupakan sebuah museum yang menceritakan sosok Munir, aktifis HAM yang meninggal pada 7 September 2004. TEMPO/Aris Novia
Seorang anak melihat-lihat koleksi peninggalan aktivis HAM Munir, di Omah Munir, Batu, Jawa Timur, Ahad, 7 September 2014. Omah Munir merupakan sebuah museum yang menceritakan sosok Munir, aktifis HAM yang meninggal pada 7 September 2004. TEMPO/Aris Novia Hidayat

TEMPO.CO, Batu-Pembangunan Museum Hak Asasi Manusia (HAM) Munir dimulai pada Minggu, 8 Desember 2019. Dimulainya pembangunan museum tersebut bertepatan dengan hari lahir ke-54 Munir Said Thalib.

Pembangunan ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di lahan seluas 2.200 meter persegi di Jalan Sultan Hasan Halim, Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, Kota Batu. Lahan ini milik Pemerintah Kota Batu yang dihibahkan kepada Yayasan Omah Munir.

Setelah Khofifah, peletakan batu pertama bergiliran dilakukan oleh Ketua Komisi Nasional HAM Ahmad Taufan Damanik, Wakil Wali Kota Batu Punjul Santoso, serta Ketua Yayasan Omah Munir Andi Achdian dan istri Munir Suciwati.

Khofifah mengatakan seluruh biaya pembangunan gedung museum tiga lantai itu ditanggung oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jawa Timur 2019 dan 2020 sebesar Rp 10 miliar lebih.

Anggaran dicairkan dalam dua termin. Pembangunan ditargetkan selesai dalam setahun dan bisa diresmikan pengoperasiannya bertepatan dengan peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2020.

Menurut Khofifah anggaran pembangunan museum tidak langsung cair semuanya karena berkaitan dengan mekanisme penggunaan APBD. Saat ini yang sudah dialokasikan sebesar Rp 5,2 miliar. "Pencairan anggaran ini sudah disepakati dengan DPRD (Jawa Timur) 22 November lalu. Sisanya yang Rp 5 miliar segera kami bahas dengan DPRD dan insyah Allah bisa disetujui,” kata Khofifah.

Jumlah anggaran meningkat dua kali lipat karena ada maksimalisasi desain dan fungsi setiap ruangan. Kata dia, sisa Rp 5 miliar lagi segera dibahas dengan parlemen Jawa Timur dan kemungkinan besar pencairannya bisa disetujui pula.  

Selanjutnya, apabila pembangunan selesai dan museum dioperasikan, maka Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kota Batu tidak lagi terlibat dalam penyelenggaraan dan perawatan museum karena nanti Yayasan Omah Munir yang mengurusinya. 

Khofifah berharap, kehadiran Museum HAM Munir memperkaya destinasi wisata di Kota Batu, khususnya sebagai objek wisata sejarah HAM. Masyarakat perlu diedukasi tentang pentingnya HAM bagi demokasi, kebenaran dan keadilan.

ABDI PURMONO

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT