Komnas HAM: Nadiem Makarim Punya PR Terkait Pelanggaran HAM
TEMPO.CO | 05/12/2019 07:17
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim memberikan sambutan pada puncak peringatan HUT Ke-74 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sabtu, 30 November 2019. Acara tersebut mengang
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim memberikan sambutan pada puncak peringatan HUT Ke-74 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sabtu, 30 November 2019. Acara tersebut mengangkat tema " Peran strategis Guru dalam mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia unggul. ANTARA

TEMPO.CO, Jakarta - Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam, mengatakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim punya tugas berat terkait kasus pelanggaran HAM berat masa lalu.

Anam menuturkan hasil Survei Komnas HAM menunjukkan mayoritas generasi Z berusia di bawah 22 tahun dan generasi Milenial berusia 22-40 tahun tak mengetahui apa saja kasus pelanggaran HAM berat.

"Sebab banyak buku pelajaran yang tidak menjelaskan adanya pelanggaran HAM berat. Hal ini menjadi tantangan bagi Nadiem Makarim," kata Anam, Selasa, 4 Desember 2019.

Survei itu mencakup lima dari 12 kasus HAM yang ditangani Komnas HAM. Yaitu Peristiwa 1965, Petrus 1982, Penculikan Aktivis 1997, Penembakan Trisakti-Semanggi 1998, dan Kerusuhan Mei 1998.

Anam berpesan, jika ingin menciptakan generasi yang melek inovasi, maka penting juga agar masyarakat tahu keadaban. Melek keadaban, kata Anam, bertujuan agar kesalahan dan penyalahgunaan wewenang dalam peristiwa masa lalu bisa diceritakan dan tidak dilakukan lagi di kemudian hari. "Keberulangan bisa kita hindari," katanya.

Untuk itu Anam menegaskan, hal ini juga menjadi tantangan bagi Nadiem Makarim. Jika dalam pidatonya Nadiem ingin memberi kesempatan siswa untuk mengajar di kelas, maka menceritakan peristiwa masa lalu bisa menjadi salah satu materinya. "Suruh cerita depan kelas gimana peristiwa 1998, 1965, itu akan jadi bangsa yang beradab. Enggak hanya bangsa yang inovatif. Ini tantangan Mendikbud," katanya.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT