Abu Rara Anggap Penusukan Wiranto Diridai Allah
TEMPO.CO | 04/11/2019 08:15
Polisi menunjukkan Syahril Alamsyah alias Abu Rara, tersangka penyerangan Menkopolhukam Wiranto di Alun-alun Menes, Pandeglang, Banten, Kamis, 10 Oktober 2019. Dua penyerang Wiranto yang merupakan pasangan suami istri sudah diringkus oleh aparat Polres Pa
Polisi menunjukkan Syahril Alamsyah alias Abu Rara, tersangka penyerangan Menkopolhukam Wiranto di Alun-alun Menes, Pandeglang, Banten, Kamis, 10 Oktober 2019. Dua penyerang Wiranto yang merupakan pasangan suami istri sudah diringkus oleh aparat Polres Pandeglang. IStimewa

TEMPO.CO, Jakarta - Syahrial Alamsyah alias Abu Rara mengemukakan alasannya menyerang mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto pada 10 Oktober 2019.

Abu Rara merasa marah karena Nabi Muhammad SAW dihina di Indonesia. Alhasil, aksi penusukan itu dianggap Abu Rara sebagai ekspresinya dalam meluapkan amarah terhadap penghinaan tersebut.

"Mereka menganggap Allah yang saya yakini itu bodoh karena membuat hukum yang tak cocok dengan masyarakat, sehingga pemerintah membuat peraturan dan hukum yang lain, bukan berdasarkan syariat," ujar Abu Rara seperti dikutip dalam laporan Majalah Tempo edisi 4 November 2019.

Apalagi, menurut Abu Rara, peraturan dan hukum yang saat ini berlaku merupakan hasil buah pemikiran dari orang-orang yang ia anggap koruptor, kafir, dan munafik.

Atas alasan itulah, Abu Rara kemudian menyerang Wiranto. Ia bahkan menyebut bahwa aksinya tersebut sudah diridakan. "Allah sudah rida dengan apa yang saya kerjakan," kata dia.

Sebagaimana diketahui, Abu Rara menusuk Wiranto, yang saat itu menjabat Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, di Pandeglang, Banten, pada 10 Oktober 2019.

Saat menjalankan aksinya, Abu Rara tak sendiri. Ia ditemani sang istri, Fitria Diana, yang juga ikut beraksi dengan menikam punggung Kepala Kepolisian Sektor Menes Komisaris Dariyanto.

Cerita selengkapnya bisa dibaca di Majalah Tempo "Pengakuan Seorang Pengguna Facebook".

ANDITA RAHMA | MAJALAH TEMPO


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT