Data BPS: Kunjungan Wisatawan Asing ke Jakarta Turun
TEMPO.CO | 02/11/2019 22:27
Wisatawan asing melintas di atas jembatan saat massa PA 212 melaksanakan salat zuhur berjamaah di sela-sela aksi di kawasan Patung Kuda, Monas, Jakarta, Rabu, 26 Juni 2019. Sidang MK dengan perkara sengketa pilpres 2019 telah digelar sejak Jumat, 14 Juni
Wisatawan asing melintas di atas jembatan saat massa PA 212 melaksanakan salat zuhur berjamaah di sela-sela aksi di kawasan Patung Kuda, Monas, Jakarta, Rabu, 26 Juni 2019. Sidang MK dengan perkara sengketa pilpres 2019 telah digelar sejak Jumat, 14 Juni 2019. TEMPO/Subekti.

TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta mencatat penurunan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Provinsi DKI Jakarta. Dari sebanyak 253.176 wisatawan selama Agustus turun menjadi 212.912 pada September 2019.

Catatan BPS, kedatangan wisatawan mancanegara itu juga sudah menurun bila dibandingkan Juli 2019. Sepanjang bulan itu, kunjungan wisatawan asing sebanyak 268.258 kunjungan.

“Lima negara masih mendominasi kunjungan, yakni Cina, Malaysia, Jepang, Singapura dan Korea Selatan,” kata Kepala BPS DKI Jakarta Buyung Airlangga, Sabtu 2 November 2019.

Kunjungan wisatawan mancanegara ke Jakarta disebutkannya melalui dua pintu masuk. Keduanya yakni Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara Halim Perdana Kusuma. Untuk sepanjang September lalu, masing-masing pintu masuk itu menyumbang sebanyak 212.727 dan 185 kunjungan.

Secara terpisah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Edy Junaedi telah mundur dari jabatannya per 31 Oktober 2019. Edy mundur di tengah kehebohan rencana anggaran 2020 di DKI yang dianggap banyak janggal. 

Selain penurunan jumlah wisatawan, Edy meninggalkan sejumlah program kegiatan yang anggarannya belum banyak terserap hingga awal November 2019. Hingga awal November 2019, serapan APBD Dinas Pariwisata dan Kebudayaan sebesar Rp308,2 miliar dari alokasi anggaran belanja sebesar Rp560,4 miliar atau 55 persen.

Di antaranya adalah penyelenggaraan pameran wisata halal senilai Rp5,9 miliar yang baru diserap 47 persen. Publikasi pariwisata pemasangan iklan media senilai Rp10,7 miliar juga baru terserap 67 persen.



REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT