Genjot Ekspor, Agus Gumiwang Ingin Ada Pameran Batik Skala Besar
TEMPO.CO | 29/10/2019 06:57
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat perkenalan Menteri Kabinet Indonesia Maju di Veranda Istana Negara, Jakarta, Rabu, 23 Oktober 2019. TEMPO/Subekti
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat perkenalan Menteri Kabinet Indonesia Maju di Veranda Istana Negara, Jakarta, Rabu, 23 Oktober 2019. TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita berjanji akan memperluas akses pasar industri kecil dan menengah (IKM) batik nasional di kancah global sehingga dapat menggenjot nilai ekspor. Salah satu yang akan dilakukannya adalah dengan semakin gencar memfasilitasi pelaku IKM sektor batik untuk berpartisipasi dalam ajang pameran tingkat internasional.

“Kami menginginkan ke depannya ada pameran-pameran batik di dunia yang skalanya besar. Misalnya di New York, Paris, London, Tokyo, Sydney, atau kota-kota lainnya yang potensial untuk penetrasi pasar produk batik Indonesia,” kata Agus pada Peringatan HUT ke-25 Yayasan Batik Indonesia di Jakarta, seperti dilansir dari keterangan resmi Kementerian Perindustrian, Senin, 28 Oktober 2019.

Agus meyakini rencananya itu bisa semakin menggaungkan batik di kalangan konsumen mancanegara. Sehingga, sektor tersebut nantinya diharapkan dapat memberi dampak pengganda yang luas dengan adanya devisa dan lapangan kerja melalui industri batik itu sendiri.

Untuk itu, Menurut Agus, perlu adanya kerja sama yang sinergi dengan pemangku kepentingan terkait agar bisa terealisasi. “Contohnya seperti Yayasan Batik Indonesia, yang telah konsisten melestarikan batik sampai saat ini,” tuturnya. Dia menyebut industri batik memiliki peran penting bagi perekonomian nasional.

Bahkan, kata Agus, industri batik dapat menjadi penggerak perekonomian nasional dan regional, penyedia lapangan kerja, serta penyumbang devisa negara. "Industri batik didominasi oleh pelaku IKM yang tersebar di 101 sentra," kata dia. Adapun, nilai ekspor batik dan produk batik selama periode Januari-Agustus 2019 mencapai US$ 20,54 juta dengan pasar utamanya ke Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa.

Lebih lanjut, industri batik nasional dinilai memiliki daya saing komparatif dan kompetitif di atas rata-rata dunia. Hal ini membuat Indonesia menjadi pemimpin pasar yang menguasai pasar batik dunia. “Perdagangan produk pakaian jadi dunia yang mencapai US$ 479 miliar menjadi peluang besar bagi industri batik untuk meningkatkan pangsa pasarnya, mengingat batik sebagai salah satu bahan baku produk pakaian jadi,” kata Agus.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT