Facebook Hapus Puluhan Akun Pendukung Kemerdekaan Papua Barat
TEMPO.CO | 06/10/2019 13:33
Logo Facebook
Logo Facebook

TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Kebijakan Keamanan Siber Facebook, Nathaniel Gleicher, menyebutkan pihaknya telah menghapus 69 akun Facebook, 42 page dan 34 akun Instagram yang terlibat dalam perilaku tidak autentik terkoordinasi. "Yang berfokus pada masalah domestik di Indonesia," ujarnya, Kamis, 3 Oktober 2019. 

Gleicher menjelaskan, orang-orang yang berada di belakang jaringan ini menggunakan akun palsu untuk mengelola page atau halaman, menyebarkan konten mereka, dan mengarahkan orang ke situs di luar platform. 

"Mereka terutama mem-posting dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia tentang Papua Barat dengan beberapa page berbagi konten untuk mendukung gerakan kemerdekaan, sementara yang lain mem-posting kritik terhadapnya," ucapnya.

Meskipun orang-orang di balik kegiatan ini berusaha menyembunyikan identitas, kata Gleicher, tim Facebook menemukan tautan ke salah satu perusahaan media Indonesia InsightID. 

Dari sisi pengikut atau follower tercatat sekitar 410 ribu akun mengikuti satu atau lebih page atau halaman ini. Serta ada sekitar 120 ribu akun yang mengikuti setidaknya satu akun Instagram yang dinilai melakukan tindakan  tidak autentik yang terkoordinasi.

Sementara dari sisi iklan tercatat sekitar US$ 300 ribu dihabiskan untuk iklan Facebook yang dibayar terutama dalam rupiah Indonesia. "Kami mengidentifikasi akun-akun ini melalui investigasi yang sedang berlangsung terhadap dugaan perilaku tidak autentik yang terkoordinasi di wilayah tersebut," ujar Gleicher.

Sebelumnya, Facebook juga menghapus akun, grup, dan pages yang dinilai melakukan perilaku tidak autentik yang terkoordinasi serta bisa menyesatkan di sejumlah negara lain seperti di Uni Emirat Araba, Nigeria, dan Mesir. Rinciannya adalah 211 akun Facebook, 107 Page, 43 Grup, dan 87 akun Instagram.

Dalam setiap kasus, kata Gleicher, orang-orang di balik kegiatan ini berkoordinasi satu sama lain dan menggunakan akun palsu untuk menggambarkan diri mereka sendiri, "dan itulah yang menjadi dasar tindakan kami."

Gleicher menyebutkan bahwa Facebook berhasil mencatat kemajuan dalam memberantas penyalahgunaan ini. Namun, ujarnya, Facebook harus menghadapi hal semacam ini sebagai tantangan yang berkelanjutan.

Facebook, kata Gleicher, berkomitmen untuk terus meningkatkan, tetap menjadi platform yang terdepan. "Itu berarti membangun teknologi yang lebih baik, mempekerjakan lebih banyak orang dan bekerja lebih dekat dengan penegak hukum, pakar keamanan, dan perusahaan lain," ujar Gleicher.

BISNIS


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT