Demo Rontokkan IHSG Pekan Lalu, Bagaimana Prediksi Besok?
TEMPO.CO | 29/09/2019 20:06
Suasana pergerakan saham di layar Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 9 Maret 2018. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir ke zona merah pada akhir sesi pertama perdagangan Jumat ini. RTI mencatat, indeks acuan saham domestik turun 30,17 poin atau seta
Suasana pergerakan saham di layar Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 9 Maret 2018. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir ke zona merah pada akhir sesi pertama perdagangan Jumat ini. RTI mencatat, indeks acuan saham domestik turun 30,17 poin atau setara 0,47% ke level 6.412,86.TEMPO/Tony Hartawan

TEMPO.CO, JakartaDirektur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee memperkirakan indeks harga saham gabungan (IHSG) berpeluang melemah pada perdagangan Senin pekan depan. Pasalnya, esok hari bersamaan dengan rencana demo mahasiswa besar-besaran di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). 

Dalam perhitungannya, Hans memprediksi IHSG akan support di level 6.191 sampai 6.165 dan resistance di level 6.219 sampai 6.256. Selama sepekan IHSG berpeluang konsolidasi menguat dengan resistance di level 6.282 sampai 6.318 dan support di level 6.165 sampai 6.986.

Hans menilai meredanya aksi massa di dalam negeri bisa menjadi sentimen positif bagi pasar saham dalam sepekan ke depan. Meskipun hingga kini ancaman adanya aksi susulan masih menjadi perhatian pasar.

"Biarpun tidak berpengaruh signifikan terhadap pasar, tetapi demo yang diikuti aksi tidak terpuji menimbulkan keluarnya dana Asing dari pasar saham dan beralih ke SBN," ujar dia dalam pesan singkat, Sabtu, 28 September 2019.

Sepekan ke belakang, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG tercatat mengalami koreksi. Indeks acuan IHSG tercatat terkoreksi 0,55 persen ke level 6.196,889 dari 6.231,473 pada pekan sebelumnya.

Bursa Efek Indonesia atau BEI juga mencatat bahwa akibat sepekan terkoreksi, nilai kapitalisasi pasar juga ikut terkoreksi sebesar 0,44 persen. Angkanya menjadi Rp 7.123,480 triliun dari sebelumnya Rp 7.155,310 pada penutupan minggu lalu.

Selain itu, data RTI menunjukkan asing mencatatkan net sell atau aksi jual bersih Rp 1,98 triliun di seluruh pasar. Di pasar reguler RTI mencatat asing keluar dari pasar senilai Rp 1,82 triliun. Sementara di pasar negosiasi dan tunai asing kabur dengan nilai Rp 159,39 miliar

Di samping adanya sentimen dari dalam negeri, sentimen lain yang menurut dia akan mempengaruhi pasar adalah perang dagang Amerika Seikat dan Cina. Tensi perang dagang sempat mereda setelah Presiden Donald Trump mengatakan bahwa kesepakatan perdagangan AS - Cina yang sudah berlangsung 15 bulan bisa terjadi lebih cepat dari harapan.

Amerika secara sementara membebaskan lebih dari 400 tipe dari produk – produk Cina yang terpukul oleh tarif impor senilai US$ 250 miliar selama tahun ini. "Isu perang dagang naik turun dan mempengaruhi pasar di mana sebelumnya Presiden AS Donald Trump di depan Majelis Umum PBB menuding Cina menyalahgunakan sistem perdagangan internasional," ujar Hans. Akibatnya, pasar saham global khususnya Amerika sangat terpengaruh oleh isu perang dagang.

Isu lainnya, ujar Hans, adalah penyelidikan impeachment oleh partai Demokrat terhadap presiden Donald Trump. Hal ini menyusul pernyataan Ketua DPR Nancy Pelosi Pelosi mengumumkan bahwa DPR akan meluncurkan penyelidikan resmi terhadap pemakzulan Trump.

Belum lagi adanya isu Brexit di Eropa. Panasnya suhu politik Inggris menjelang keputusan Brexit dikhawatirkan menghasilkan keputusan yang tidak optimal. Bila Inggris keluar zona Euro tanpa sebuah kesepakatan yang baik berpeluang memicu resesi di zona Euro. "Pasar mencerna peluang resesi di kawasan tersebut menyusul data yang tidak terlalu baik," ujar Hans. "Kekhawatiran resesi Zona Euro punya pengaruh kepada perdagangan pasar saham."

DIAS PRASONGKO


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT