Saat Penumpang Bandingkan Fasilitas LRT Jakarta dan KRL
TEMPO.CO | 27/09/2019 08:32
Suasana Stasiun Kereta LRT Jakarta, Pegangsaan Dua, di Kelapa Gading, Jakarta Utara, usai diresmikan pada Kamis, 26 September 2019. TEMPO/M Julnis Firmansyah
Suasana Stasiun Kereta LRT Jakarta, Pegangsaan Dua, di Kelapa Gading, Jakarta Utara, usai diresmikan pada Kamis, 26 September 2019. TEMPO/M Julnis Firmansyah

TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah penumpang LRT Jakarta menyampaikan penilaiannya saat mencoba moda transportasi kereta ringan itu. Mereka membandingkan fasilitas LRT dengan kereta commuterline atau KRL.

"Kalau saya bandingkan, kursi duduknya lebih enak di KRL, sebab ada bantalan busanya. Sementara LRT materialnya stainless, jadi agak kurang nyaman. Agak licin dan keras," kata penumpang LRT, Yohana, Kamis, 26 September 2019.

Menurut warga Kampung Melayu, Jakarta Timur itu dimensi gerbong LRT itu relatif lebih kecil dari KRL. "Kalau sensasi laju keretanya sih sama saja dengan KRL, tidak banyak getaran. Cuma suara AC-nya aja rada berisik," kata dia.

Penumpang lainnya, Aulia mengkritik ketiadaan gerbong khusus perempuan di LRT. "Seharusnya ada gerbong khusus perempuan juga seperti yang dilakukan KRL, jadi kita yang perempuan lebih diprioritaskan dari laki-laki, khususnya saat penumpang padat," ujarnya.

Aulia dan Yohana adalah penumpang yang sengaja naik LRT dari Stasiun Velodrome menuju Kelapa Gading selama masa uji coba yang masih digratiskan.

Berdasarkan pantauan Antara, fasilitas yang dimiliki LRT secara umum tidak memiliki perbedaan signifikan dengan KRL. Namun fasilitas khusus kaum disabilitas masih terbatas di dalam gerbong kereta berkapasitas maksimal 270 orang per rangkaian kereta itu.

Jika KRL tidak menyediakan area khusus bagi pengguna kursi roda, maka LRT justru memberikan tempat khusus tersebut sebanyak dua titik di setiap gerbong.

Area khusus pengguna kursi roda itu berada di sisi pintu kereta yang dilengkapi penanda stiker serta bantalan dinding kereta dan tali pengikat kursi roda. Namun LRT tidak menyediakan kursi khusus penyandang disabilitas layaknya KRL sebanyak 12 kursi per gerbong.

Penyandang disabilitas duduk di rangkaian kursi yang sama dengan penumpang umum. Namun posisinya didekatkan dengan pintu masuk dan keluar.

General Manager Operasi dan Pelayanan PT LRT Jakarta, Aditya Kesuma mengatakan kelebihan lain dari LRT adalah dimensi lintasan yang tidak banyak memerlukan lahan. "Lintasannya agak lebih ramping, sehingga saat pembangunan tidak butuh lahan besar. Selain itu untuk manuver juga lebih lincah dengan radius belok yang tajam," kata dia.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT