Protokol Kerja Sama Dikebut, Lima Buah Diekspor ke Cina Tahun Ini
TEMPO.CO | 22/09/2019 09:17
Ilustrasi foto Durian.[CNN]
Ilustrasi foto Durian.[CNN]

TEMPO.CO, NANNING — Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menjanjikan perluasan protokol kerja sama perdagangan buah dengan Cina bakal kelar tahun ini. Hal ini untuk meningkatkan kinerja ekspor Indonesia ke Cina.

Artinya, lima buah yang belum disetujui untuk masuk Cina, bakal bisa diekspor ke sana pada tahun ini, yaitu nenas, mangga, durian, alpukat, dan salak. Adapun, protokol buah yang telah dijalin Indonesia dengan Cina, yaitu manggis, buah naga, dan pisang.

“Kami sempat berbincang-bincang untuk meningkatkan ekspor ke Cina, di antaranya produk buah-buahan. Potensi pasar buah-buahan kita itu sangat besar.  Itu harus segera dibuka. Tahun ini sudah harus [dibuka],” ujar Luhut seusai pembukaan The 16th Cina-ASEAN Expo (CAEXPO) dan The 16th Cina-ASEAN Business and Investment Summit (CABIS), Sabtu 21 September 2019.

 

Pada kesempatan yang sama, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan buah-buahan yang protokolnya belum disetujui Cina yaitu nanas, mangga, durian, alpukat, dan salak. “Sebulan yang lalu saya ke Beijing untuk membicarakan soal buah-buahan kita dan sudah dijanjikan segera [akan disetujui]. Protokolnya lama. Nah tadi Pak Luhut sudah meminta tindak lanjutnya,” ujarnya usai mendampingi Menko Maritim, yang juga bertindak sebagai pimpinan Delegasi Indonesia.

 

Menurut Enggar, salah satu persoalan yang menghambat potensi ekspor komoditas, selain manggis dan buah naga, ke Cina adalah ketentuan Good Agricultural Practices (GAP) yang kurang berpihak pada buah-buahan tropis. Dia menyebutkan, ketentuan dalam GAP selama ini lebih banyak didasarkan pada buah nontropis.

Selain itu, komoditas buah tropis asal Indonesia juga masih mengalami kendala dalam hal kualitas dan kandungan pestisida yang dinilai terlalu tinggi di negara lain. Kondisi itu membuat buah-buahan RI kesulitan mendapatkan izin ekspor dari negara tujuan, diantaranya Negeri Panda.

Beberapa waktu lalu, Ketua Umum Asosiasi Eksportir-Importir Buah dan Sayuran Segar Indonesia (Aseibssindo) Khafid Sirotuddin pernah mengatakan pemerintah perlu menambah jumlah buah asal RI untuk dikerjasamakan dengan Cina.

“Maka dari itu, perluasan protokol kerja sama ini penting untuk menjamin keberlangsungan ekspor kita ke negara tujuan. Di sisi lain, pemerintah juga perlu mengembangkan perkebunan untuk buah-buahan potensial namun belum kontinyu produksinya seperti pisang dan salak. Supaya ketika dibuka akses pasarnya, volume ekspornya termaksimalkan,” ujarn Enggar kala itu.

Adapun, berdasarkan data Trade Map, nilai ekspor buah manggis segar yang tergabung dalam kode harmonized system (HS code) 0804 bersama buah lain seperti nanas, alpukat, jambu biji, dan mangga ke Cina mencapai US$10,74 juta pada 2018. Nilai ekspor tersebut melonjak drastis dari 2017 yang hanya US$73.000 dan US$106.000 pada 2016.

BISNIS 

REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT