KPK Minta Imigrasi Cegah Imam Nahrawi ke Luar Negeri
TEMPO.CO | 20/09/2019 04:05
Menpora Imam Nahrawi memberikan keterangan pers pengunduran dirinya di Kantor Kemenpora, Jakarta, Kamis 19 September 2019. Imam Nahrawi resmi mengundurkan diri dari jabatan Menpora usai ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pemberian dana hibah K
Menpora Imam Nahrawi memberikan keterangan pers pengunduran dirinya di Kantor Kemenpora, Jakarta, Kamis 19 September 2019. Imam Nahrawi resmi mengundurkan diri dari jabatan Menpora usai ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pemberian dana hibah KONI. TEMPO/M Taufan Rengganis

TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah melayangkan surat permintaan ke Direktorat Jenderal Imigrasi untuk melarang mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi ke luar negeri pasca penetapan tersangka dugaan kasus dana hibah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

“Kami sudah melakukan pelarangan ke luar negeri. KPK sudah mengirim surat ke imigrasi sejak akhir Agustus 2019 ini untuk dua orang kasus dugaan suap hibah KONI,” kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah di Gedung Merah Putih, Jakarta Kamis malam, 19 September 2019.

Febri menjelaskan, penyidikan Imam Nahrawi beserta asistennya, Miftahul Ulum, telah dilakukan sejak 28 Agustus 2019. Dan dalam hitungan hari, surat pemberitahuan dimulainya penyidikan sudah dilayangkan KPK kepada keduanya sejak awal bulan September 2019.

“Jadi kalau ada yang mengatakan bahwa baru tahu sejak pengumuman kemarin, saya kira seharusnya bukan demikian info yang benar. Karena sebelumnya kami sudah beri informasi tekait penanganan perkara ini pada para tersangka,” katanya.

Lebih lanjut Febri menjelaskan, selain dugaan suap hibah KONI, KPK juga telah mendalami dugaan lainnya yaitu penerimaan suap terkait Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) dan dugaan penerimaan suap yang berhubungan dengan jabatan. “Maka yang digunakan tidak hanya pasal suap, tapi juga pasal gratifikasi,” ujar Febri.

Sebelumnya, KPK menduga selama periode 2014-2018 Imam melalui asistennya telah menerima Rp14,7 miliar. Selain itu, Imam juga diduga menerima Rp11,8 miliar selama 2016-2018. Sehingga total uang yang telah diterima Imam secara keseluruhan berjumlah Rp26,5 miliar.

HALIDA BUNGA FISANDRA | ROSSENO AJI


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT