Derita Pencari Suaka, Satu Nasi Kotak Dimakan Bertiga
TEMPO.CO | 12/09/2019 04:40
Pencari Suaka asal Afghanistan bermain bersama anaknya di pengungsian eks-kodim di Daan Mogot Baru, Jakarta Barat, Kamis, 5 September 2019. Rencananya Pemprov DKI Jakarta akan mengusir paksa para Pencari Suaka tersebut keluar dari pengungsian di gedung ek
Pencari Suaka asal Afghanistan bermain bersama anaknya di pengungsian eks-kodim di Daan Mogot Baru, Jakarta Barat, Kamis, 5 September 2019. Rencananya Pemprov DKI Jakarta akan mengusir paksa para Pencari Suaka tersebut keluar dari pengungsian di gedung eks-kodim, namun pemerintah DKI Jakarta memperpanjang waktu menjadi tiga hari ke depan untuk para pencari suaka menggunakan gedung eks-kodim tersebut untuk tempat istirahat. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

TEMPO.CO, Jakarta - Para pencari suaka di bekas Gedung Komando Distrik Militer (Kodim), Perumahan Daan Mogot Baru, Kalideres, Jakarta Barat, harus menahan lapar beberapa selama hari ke belakang. Pasalnya mereka tak lagi mendapatkan bantuan makanan dari Badan Persatuan Bangsa-Bangsa untuk Urusan Pengungsi, UNHCR sejak Jumat, 6 September 2019 lalu.

Pencari suaka asal Afghanistan, Muhammad Sadiq, menyatakan bahwa sejak sepekan terakhir praktis mereka hanya mengandalkan sumbangan dari warga. Sumbangan terakhir, menurut pria berusia 25 tahun itu, diberikan oleh warga empat hari lalu.

Makanan yang diberikan warga pun hanya sebanyak 150 kotak, tak sesuai dengan jumlah orang yang berada di sana.

"Kami di sini hampir 400 orang. Jadi, satu kotak nasi dikonsumsi bertiga,” kata dia saat ditemui di gedung eks Kodim, Kalideres, Jakarta Barat, Rabu, 11 September 2019.

Menurut Sadiq, selepas itu para pencari suaka tak lagi mendapat bantuan makanan. Mereka hanya bisa memanfaatkan biskuit dan roti yang diberikan warga untuk makan sehari-hari, sementara bagi yang masih memiliki uang, kata Sadiq, memilih untuk membeli makan di luar.

“Bantuan air minum masih ada, tapi tidak banyak jumlahnya,” kata pria yang fasih berbahasa Indonesia itu.

Selain makan dan minum, bantuan air bersih dan listrik untuk para pencari suaka pun telah tiada. Di gedung eks Kodim tersedia meteran listrik yang dapat diisi dengan token, namun, mereka tak memiliki uang untuk membelinya. Lagi-lagi, kata Sadiq, para pencari suaka mengandalkan bantuan dari donatur yang datang.

Terakhir, kata dia, seorang donatur mengisi token daya meteran listrik itu senilai Rp 400 ribu.

“Kami hanya pakai untuk mengisi baterai telefon seluler dan kipas angin. Kalau lampu memang tidak bisa menyala. Setiap malam gelap gulita,” kata Sadiq yang sudah berada di Indonesia selama enam tahun.

Mereka pun harus memanfaatkan toilet umum yang berada di sekitar area gedung eks Kodim untuk mandi atau buang air.

Para pencari suaka tersebut kembali ke bekas gedung Kodim sejak sepekan terakhir. Mereka rata-rata mengaku kehabisan uang karena hanya diberikan bantuan sebesar Rp 1,3 juta oleh UNHCR untuk jahat hidup selama sebulan.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun akhirnya kembali memperbolehkan mereka kembali menempati gedung tersebut setelah sebelumnya mereka diminta hengkang.

Kepala Badan Kesbangpol DKI Taufan Bakri menyatakan kebijakan itu dibuat setelah Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta DKI Jakarta tak mengusir para pencari suaka sebelum pemerintah pusat medan UNHCR mencari solusi terbaik.

Meskipun demikian, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tak akan kembali memberikan bantuan makanan dan minuman yang sudah mereka hentikan sejak akhir Agustus lalu. UNHCR pun sempat memberikan bantuan sebesar Rp 1,3 juta per kepala keluarga untuk biaya hidup.

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT