Wagub Uu Usulkan Ada Hari Anak Yatim Nasional
TEMPO.CO | 11/09/2019 09:28
Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum, menghadiri kegiatan Menyantuni 600 Anak Yatim di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Selasa, 10 September 2019.
Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum, menghadiri kegiatan Menyantuni 600 Anak Yatim di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Selasa, 10 September 2019.

INFO JABAR– Masyarakat dan negara berperan penting dalam melindungi, mengayomi, mendidik, dan membesarkan anak yatim yang terlantar. “Karena itu diusulkan agar digagas ada Hari Anak Yatim Nasional,” ujar Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum, saat memberikan sambutan pada kegiatan Menyantuni 600 Anak Yatim di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Selasa, 10 September 2019.
 
"Kami juga mendorong pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi agar ada Hari Anak Yatim Nasional sebagai bentuk penghormatan kita kepada mereka, bentuk penghormatan negara kepada mereka," kata Uu.

Menurut Uu, Pemprov Jabar memberikan perhatian khusus kepada anak yatim, khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan, melalui Biro Pelayanan Sosial Setda Provinsi Jabar maupun Baznas Jabar.

Wagub Uu juga mengapresiasi  Yayasan Assalaam yang menyerahkan santunan kepada 600 anak yatim. Menurut dia, pemberian santunan itu sejalan dengan visi misi pembangunan Pemerintah Daerah Provinsi (Pemdaprov) Jabar, yakni Jabar Juara Lahir Batin. "Ini adalah salah satu contoh dari pembangunan manusia di Jawa Barat,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wagub Uu, yang juga merupakan Panglima Santri Jabar mengecam insiden penusukan yang mengakibatkan hilangnya nyawa Mohammad Rozian, seorang santri asal Pondok Pesantren Husnul Khotimah Kuningan.

Peristiwa terjadi Jumat, 6 September 2019, saat korban sedang menunggu ibunya di Jalan Dr. Cipto Mangunkusumo Kota Cirebon. "Atas nama Panglima Santri kami turut berduka cita atas kejadian yang menimpa santri, semoga Husnul khotimah," ucap Uu.

Wagub Uu mengimbau, agar insiden serupa tidak terulang, pesantren dan pihak terkait dapat meningkatkan keamanan, baik di dalam lingkungan pesantren maupun dengan memberikan pendampingan saat santri hendak bepergian. "Minimal santri ada yang menemani saat bepergian, tidak sendiri, ada yang mendampingi," kata Uu. (*)

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT