Dari Perang Dagang ke Perang Mata Uang
TEMPO.CO | 10/09/2019 07:30
Mata uang dollar Amerika dan Yuan Cina. REUTERS/Jason Lee/Illustration/
Mata uang dollar Amerika dan Yuan Cina. REUTERS/Jason Lee/Illustration/

Tri Winarno
Pengamat kebijakan ekonomi

Perang dagang lanjutan antara Amerika Serikat dan Cina semakin membara setelah Presiden Amerika Donald Trump mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif 10 persen terhadap impor barang dari Cina senilai US$ 300 miliar, yang selama ini belum menjadi target Trump.

Otoritas Cina kemudian membiarkan mata uangnya, renminbi, terjun bebas di bawah batas psikologis 7 yuan renminbi per dolar Amerika. Pemerintahan Trump dengan spontan bereaksi dengan menuduh Cina sebagai "manipulator mata uang". Para pakar menilai perang mata uang sudah dimulai, sehingga para investor seketika mengguncang pasar saham dan pasar keuangan internasional pada titik yang mengkhawatirkan, meskipun rencana kenaikan tarif tersebut akan efektif dimulai pada 1 Desember 2019, diundur dari rencana pada 1 September 2019.

Pelabelan Amerika Serikat terhadap Cina sebagai manipulator mata uang tersebut sebenarnya kurang tepat. Yang benar, Bank Rakyat Cina, bank sentral Cina, menyerah terhadap tekanan pasar uang karena Trump mengumumkan untuk mengenakan tarif impor tambahan baru kepada Cina.

Berdasarkan teori ekonomi, tarif tidak akan meningkatkan neraca perdagangan seperti yang dibayangkan oleh Trump karena nilai tukar ditentukan oleh kekuatan pasar. Maka, untuk mengimbangi tarif, nilai tukar secara otomatis akan mengalami depresiasi, persis yang dialami oleh renminbi baru-baru ini. Karena tarif berdampak pada penurunan konsumen Amerika dalam membeli produk impor Cina, permintaan terhadap renminbi akan melemah dan nilai tukar renminbi akan jatuh.

Sebenarnya, tugas untuk mengevaluasi apakah mitra dagang Amerika Serikat melakukan "manipulasi mata uang" merupakan tanggung jawab Kementerian Keuangan Amerika dengan memakai dua kriteria. Pertama, berdasarkan ketentuan Dana Moneter Internasional bahwa negara tersebut mengintervensi secara terus-menerus agar mata uangnya terdepresiasi. Kedua, negara tersebut mempunyai surplus transaksi berjalan yang sangat besar akibat depresiasinya. Kenyataannya, kedua kriteria tersebut tidak terjadi pada kebijakan ekonomi Cina saat ini.

Tuduhan Trump yang sembrono itu akan berdampak melemahkan citra lembaga Amerika yang bernorma dan profesional serta mencederai kredibilitas institusi, bahkan merendahkan wibawa hukum Negeri Abang Sam.

Memang benar, dalam selang waktu tertentu, otoritas Cina menjaga agar renminbi secara substantif undervalued. Dari 2004 sampai pertengahan 2014 dan khususnya dalam rentang 2004-2008, Bank Rakyat Cina mengintervensi secara signifikan untuk memperlambat apresiasi renminbi yang didorong oleh kekuatan pasar yang sangat masif. Namun, selama sepuluh tahun tersebut, renminbi masih diapresiasi sebesar 30 persen terhadap dolar Amerika dan puncaknya renminbi terkuat pada 2014.

Kemudian terjadi perubahan arah angin dan sentimen pasar berubah menekan renminbi. Selama lima tahun lalu, berlawanan dengan tuduhan Trump dan politikus Amerika, otoritas Cina telah mengintervensi secara besar-besaran untuk memperlambat depresiasi renminbi yang masif. Pada 2015 dan 2016, Bank Rakyat Cina telah menggelontorkan cadangan devisa sebesar US$ 1 triliun (dari total cadangan devisanya sebesar US$ 4 triliun) dalam upaya yang sungguh-sungguh untuk memperkuat nilai tukar renminbi. Itu merupakan intervensi valuta asing terbesar dalam sejarah modern.

Keputusan pemerintah Cina baru-baru ini, yang membiarkan renminbi melemah, memang disengaja untuk merespons kebijakan tarif Trump terbaru. Tapi dalam waktu bersamaan Cina masih tetap prihatin akan kemungkinan mata uangnya tergelincir semakin jauh dengan cepat, sehingga mengguncang pasar uangnya dan pasar uang internasional.

Sementara itu, Trump ahli dalam menuduh orang lain, melakukan pelanggaran yang dia sendiri lakukan. Sambil menuduh Cina sebagai manipulator mata uang, dia sebenarnya sengaja melemahkan dolar. Secara terbuka, ia menekan The Fed, bank sentral Amerika, agar menurunkan suku bunga acuan hingga 100 basis poin dengan alasan bahwa, pada zaman Obama saja bunganya nol persen, masak pada zaman dia bunganya semakin naik.

Trump jelas melihat dunia sebagai permainan depresiasi mata uang untuk meningkatkan daya saing produk-produknya. Bahkan Trump mempertimbangkan kemungkinan untuk mengintervensi langsung ke pasar valuta asing guna melemahkan dolar. "Saya dapat melakukan itu dalam dua detik kalau mau," kata dia. Namun langkah tersebut sulit terwujud.

Kalau Amerika sekarang melakukan perang mata uang dengan Cina, Amerika dipastikan tidak akan mampu membuat dolar terdepresiasi karena Kementerian Keuangan Amerika memiliki sumber daya terbatas dibandingkan dengan Cina dalam mengintervensi pasar valuta asing. Selain itu, seberapa pun besar tekad Trump untuk mendepresiasikan dolar, investor akan terus merespons dengan menumpuk dolar, sehingga dolar akan semakin terapresiasi.

Berdasarkan kaidah ekonomi internasional, sebenarnya dampak ekonomi perang mata uang kurang merusak dibandingkan dengan perang dagang. Sebab perang mata uang akan disertai dengan kebijakan moneter yang semakin longgar dan akan berdampak positif terhadap negara berkembang, sedangkan perang dagang yang mengglobal akan mengerdilkan ekonomi global serta memicu pesimisme di pasar uang dan pasar modal.

Dolar memang dilematis. Tidak hanya bagi negara asing, tapi juga bagi presidennya sendiri.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT