Utang Jasa Marga Menumpuk, Lihat Proyek Andalannya
TEMPO.CO | 27/08/2019 05:30
Foto udara Gerbang Tol Cikarang Utama di Bekasi, Jawa Barat, Kamis 16 Mei 2019. PT Jasa Marga akan merelokasi Gerbang Tol Cikarang Utama yang mengalami penyempitan akibat proyek jalan tol layang ke Gerbang Tol Cikampek Utama di KM 70 Tol Jakarta-Cikampek
Foto udara Gerbang Tol Cikarang Utama di Bekasi, Jawa Barat, Kamis 16 Mei 2019. PT Jasa Marga akan merelokasi Gerbang Tol Cikarang Utama yang mengalami penyempitan akibat proyek jalan tol layang ke Gerbang Tol Cikampek Utama di KM 70 Tol Jakarta-Cikampek untuk meminimalkan kemacetan saat arus mudik. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

TEMPO.CO, Jakarta - PT Jasa Marga (Persero) Tbk. tengah fokus membayar bunga utang kepada para kreditur mereka. Corporate Communications Jasa Marga Irra Susiyanti memastikan perusahaannya mampu memenuhi semua kewajiban keuangan itu.

“Sebab Jasa Marga saat ini memiliki konsesi jalan tol pada kisaran 35 hingga 50 tahun” kata Irra saat dihubungi di Jakarta, Senin, 26 Agustus 2019.

Menurut dia, pendapatan dari tol di masa konsesi inilah yang bakal menopang pembayaran utang tersebut.

Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup era Presiden Soeharto, Emil Salim, meminta pemerintah hati-hati membebankan seluruh pengerjaan proyek infrastruktur kepada BUMN.

Rasio utang terhadap ekuitas (debt-to-equity ratio) di beberapa BUMN pada 2016 sudah melebihi rata-rata batas aman di negara berkembang.

Di BUMN sektor konstruksi batas aman rasio utang terhadap ekuitas 0,96. Namun, rasio empat BUMN konstruksi melebihi batas ini.

Rinciannya, PT Adhi Karya 2,69, PT Jasa Marga 2,27, PT Waskita Karya 2,66, PT Wijaya Karya 1,49, dan PT Hutama Karya 2,18.

Kondisi serupa terjadi pada BUMN bidang transportasi. Menurut Emil, batas aman rasionya 0,6. Tapi rasio PT Pelindo I 0,7, PT Pelindo II 2,65, PT Pelindo III 1,3, serta PT Angkasa Pura I 0,97.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia ini ingin pemerintah mewaspadai kondisi tersebut.

“Saya ingin Pak Presiden, please, perhatikan."

Lembaga Standard & Poor’s (S&P) Global menyebut utang 20 perusahaan pelat merah RI melonjak drastis. Rasio utang terhadap laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (debt-to-EBITDA ratio) mereka naik dari 1 kali pada 2011 menjadi 4,5 kali pada 2017.

Perihal utang BUMN sudah dilihat pemerintah sejak akhir tahun lalu.  Saat itu, Deputi Bidang Restrukturisasi Kementerian BUMN Aloysius Kiik Ro menjelaskan asal-usul utang perusahaan pelat merah yang menembus Rp 5.271 triliun pada September 2018 bukan utang riil.

Irra mengakui posisi rasio kemampuan EBITDA untuk membayar bunga atau Interest Coverage Ratio (ICR) di perusahaannya berada di kisaran 3 kali. Angka ini masih jauh lebih tinggi dari batasan keuangan yang dipersyaratkan kreditur, yaitu 1,25 kali.

Maka Jasa Marga mengklaim posisi keuangan mereka masih cukup aman, baik untuk menyelesaikan pembangunan jalan tol eksisting maupun menambah konsesi jalan tol baru.

FAJAR PEBRIANTO


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT